¨ Ketika tubuh akrab dengan diam
Aku tidak pernah keberatan dengan keheningan, terbiasa nyaman dalam kesendirian.
Tapi ketika tubuh ini memintaku untuk diam, dikekang nyeri yang tidak bisa kubantah, rasanya aku menjadi terasing di dalam diri sendiri.
Hari-hari yang biasanya berwarna kerja, aktivitas, komunitas, teman, juga perjalanan, tiba-tiba berhenti di titik nol.
Pagi datang, bergilir bersama siang dan petang, akhirnya malam mulai terbentang. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran… entah berapa lagi mesti kubilang.
Rasa tertinggal, tidak tahu apa yang ditinggalkan. Terasing, dari apa?
Diam ini menyelipkan bisikan sepi yang mengendap di relung batin.
¨ Tubuh – Bergulat dengan dingin dan hening
Kejenuhan mulai merayap, frustasi memata-matai, ketakutan kecil mulai menyelidiki, “Berapa lama lagi?”.
Ternyata, yang tersulit bukanlah tangan nyeri untuk ke sana kemari, bukan juga tubuh yang dipaksa berhenti. Yang tersulit adalah percakapan dengan diri sendiri – yang perlahan menggiringku pada kesadaran bahwa aku sedang beraksi bersama sepi.
Sepi yang bukan hanya hening, tetapi juga membawa rasa tak peduli, tertahan, tertinggal dari yang biasanya kuanggap biasa.
Sekali lagi pertanyaan datang di kepala, kali ini sepertinya pertanyaan yang lebih berguna:
“Siapa aku ketika tubuhku tidak bisa berbuat apa-apa?”.
Pertanyaan memang tidak selalu bertemu jawaban, seakan membiarkan aku bergelut dalam ruang kosong yang sunyi, tapi jujur.
¨ Tubuh – Menemukan keterbatasan
Ternyata, di dalam sepi yang memeluk erat, aku mulai mendengar suara lembut:
“Seberapa sering aku mengukur arti hidup dari apa yang bisa kulakukan?”
Tuhan memanggilku saat ini bukan untuk melakukan lebih, tapi untuk hadir lebih.
Bukan dalam keramaian, tetapi dalam keheningan.
Bukan dalam pencapaian, tetapi dalam kesadaran, bahwa aku dikasihiNya bukan karena kekuatan atau kemampuanku tapi karena keterbatasanku.
Dia ada, Dia menemani, Dia mengasihi, bahkan saat aku hanya bisa duduk dan terdiam.
Sekarang aku mengerti, diam bukan berarti berhenti.
Ada kehidupan yang terus tumbuh meski tidak kasat mata.
Diam adalah ruang pertumbuhan, tempat di mana aku belajar menerima, memahami, dan mengenali dengan jujur arti keterbatasan.
¨ Menyambut pulih dengan cara memilih
Ketika nanti aku pulih dan aktif kembali, aku melangkah bukan dengan ambisi, tapi dengan atensi.
Atensi bahwa setiap nafas, gerak, dan tulisan yang tertuang, adalah anugerah yang tak layak dianggap biasa.
Untuk kamu, yang sedang “berhenti” karena hidup memaksa diam, tertahan, atau merasa tertinggal – jangan kecilkan hati.
Tuhan tetap berkarya di balik diam dan sepi..
Dan bisa jadi, justru di situlah kamu sedang tumbuh menjadi lebih utuh.
Selamat menikmati proses.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.