(Karena kemurnian tak butuh suara lantang, ia tinggal sebagai cahaya, bahkan saat raga berpulang)
Buatku, Audrey Hepburn adalah sosok yang tidak bisa dilupakan.
Ia memikat bukan semata karena wajah cantiknya, tapi karena caranya hadir,
kedalaman yang mengisi ruang jiwa yang memandangnya.
Waktu muda, ia adalah lambang kecantikan.
Simetris, memesona, dan anggun dalam setiap gerak.
Tidak semua orang melihat bahwa di masa tuanya, ia justru bersinar paling terang.
Dengan kerutan yang tak disembunyikan, dengan rambut yang tak lagi berkilau,
di mataku, ia sangat cantik.
Ia tidak merias luka hidupnya dengan ilusi.
Ia pernah kehilangan, patah hati, keguguran, dua kali pernikahan yang tidak berjalan
sampai akhir hayat, ia tidak menyangkal itu semua.
Tapi yang paling dikenang bukan kesedihannya,
melainkan kelembutan yang tetap tinggal di matanya,
dan ketulusan yang mengalir dalam hidupnya.
Ia menua tanpa melawan waktu.
Menerima garis wajah seperti menerima musim yang datang dan pergi.
Membiarkan kehidupan membentuknya, tanpa melupakan bekasnya.
Kecantikan yang tak bisa dibentuk oleh teknologi.
Kecantikan yang tidak bergantung pada usia atau pada sentuhan luar yang bisa
mengubah rupa.
Kecantikan yang tumbuh bukan di kulit, tapi di hati,
bukan dari sorot lampu, tapi dari caranya memeluk bumi.
Dan ketika melihat wajah tuanya yang tenang,
ada sesuatu yang terasa utuh,
sekan waktu tak merampas apapun dari dirinya,
tapi justru menambahkan maknanya.
Karena keindahan sejati tidak pernah tinggal di permukaan.
Meskipun ia telah tiada,
napasnya melekat di batinku,
dan mungkin juga di banyak wanita di luar sana.
Bukti bahwa jejak hidupnya memberi warna.
Kemurnian memang tidak perlu suara lantang,
ia akan tinggal sebagai cahaya,
meski raga sudah berpulang.
Santi Konanjaya