Momen di Griya Karuna membuka mataku pada potongan-potongan kecil yang
sepertinya sulit terlihat jika hanya singgah sesaat.
Kehidupan di sana tidak pernah berjalan datar.
Selalu dinamis, penuh kejutan, dan di setiap momen menyimpan kedalamannya sendiri.
Di sana, musim berganti begitu cepat.
Tawa pecah dalam kebersamaan, kehangatan merebak di setiap sudut ruang,
lalu tiba-tiba menjadi hening yang panjang ketika seorang anak harus kembali
menahan sakit, atau saat langkah kecil berpamitan menuju rumah sakit.
Di saat yang hampir bersamaan, sambutan peluk hangat datang, bahagia
menular cepat menyambut mereka yang kembali setelah menjalani perawatan panjang.
Kursi roda, tabung oksigen, beberapa alat medis sederhana berdampingan dengan
tempat bermain dan buku-buku anak yang setia menemani keseharian mereka.
Griya Karuna adalah rumah yang terang dan bersih.
Ruang-ruang yang lapang, dengan sirkulasi udara yang mengalir, membawa napas baru.
Batinku membaca itu sebagai harapan yang tak pernah berhenti masuk.
Tidak ada aroma obat-obatan yang menekan.
Yang terhirup adalah wangi sabun anak,
desau kipas angin yang berputar,
tawa dan canda yang riang,
atau tangis lirih yang segera luluh dalam pelukan ibunya.
Tubuh mereka mungkin rapuh, rambut menipis, kulit menggelap karena obat.
Namun mata mereka bercahaya.
Ada harapan di sana… harapan akan hari esok, harapan akan kesembuhan.
Di bola mata mereka, aku melihat,
Griya Karuna bukan hanya rumah untuk anak sakit, melainkan rumah kasih.
Dari kasih itulah wajah kehidupan Griya Karuna mengalir,
tak pernah sama, tapi selalu menuju ke muara yang sama:
harapan yang terus dibangun.
Di situ kurasakan..
betapa berharganya kasih yang terus mengalir,
betapa kehadiran menjadi kekuatan yang menghangatkan hati anak-anak dan ibu-ibu
mereka ketika musim dingin tak kunjung berganti.
Aku belajar, bahwa kehadiran sederhana namun utuh..
adalah bahasa kasih yang paling mereka perlu.
Aku belajar, kasih tak selalu menghapus musim dingin,
tapi mampu menjaga hati tetap hangat menjalani.
Kasih yang murni, lahir dari ketulusan memberi,
Dan kasih yang murni.. tidak pernah tersesat menemukan pulang.
Santi Konanjaya