Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan,
Tapi perjalanan seseorang yang melihat kasih bekerja lebih besar daripada dirinya.
Perjalanan yang membawa banyak pelajaran yang tidak dicatat oleh lensa,
tapi oleh hati yang terbuka, lewat wajah-wajah kecil yang kerap diabaikan dunia.
Perjalanan ketika Tuhan tidak memintaku untuk bicara, tapi untuk melihat.
Bukan untuk membuatku kagum, tapi untuk hatiku kembali diingatkan,
bahwa kasih sejati tidak pernah bergantung pada kesempurnaan.
Di ruang yang paling sederhana,
aku justru menyaksikan kemuliaan yang tak terucapkan,
hati yang memberi tanpa perlu banyak memiliki,
jiwa yang bersinar meski dunia tidak menoleh.
Di sana aku disentuh, bukan oleh belas kasihan,
tapi oleh kehadiran kasih itu sendiri.
Aku juga melihat,
ada yang sibuk membuktikan,
ada yang sibuk menyerahkan.
Ada yang sibuk meraup terang agar terlihat,
ada yang membiarkan dirinya menjadi terang.
Ketika seseorang belum tahu bagaimana caranya dicintai tanpa syarat,
mungkin karena ia belum pernah mencintai tanpa syarat.
Memberi dengan tangan, tapi hati tidak ikut bergandengan.
Jiwa berputar dalam labirin kehampaan.
Semakin dikejar, semakin kehilangan.
Semakin berkelimpahan, semakin berkekurangan.
Semakin dipenuhi, semakin kosong.
Perlahan aku mengerti:
Tuhan tidak selalu berbicara lewat keindahan.
Kadang Dia memperlihatkan yang retak,
agar aku tahu di mana seharusnya berpijak.
Segala yang kulihat bukanlah kebetulan,
Dia sedang meneguhkan jalan,
bahwa kasih sejati lahir ketika seseorang berhenti menjadikan dirinya pusat segalanya.
Dan mungkin,
memang di situlah seharusnya kita berada…
Jatuh seperti gema yang lembut.
Di mana kita sudah tidak lagi memikirkan diri sendiri,
karena kasih itu sendiri sudah hidup di dalam kita.
Santi Konanjaya