Ambisi.
Kata ini sering kali melintas di telingaku.
Tentang bagaimana dunia terbiasa memuji dorongan untuk terus menjadi lebih,
lebih tinggi,
lebih berhasil,
lebih cepat
lebih terlihat.
Lalu,
ke arah mana langkahku hari ini?
Sebab tidak semua langkah lahir dari tempat yang sama.
Ada hidup yang digerakkan oleh rasa percaya.
Ada hidup yang digerakkan oleh lapar yang tak pernah selesai.
Lapar untuk diakui.
Lapar untuk dipandang.
Lapar untuk menjadi lebih dari yang lain.
Lapar untuk terus membuktikan diri.
Sering kali juga, semua itu datang menyamar dengan sesuatu yang baik:
mimpi,
visi,
panggilan,
bahkan tanggung jawab.
Ambisi memang tidak selalu mudah dikenali.
Ia tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar atau mencolok.
Kadang ia hadir dalam keinginan untuk melakukan yang terbaik.
Kadang ia bersembunyi di balik kerinduan untuk terus bertumbuh.
Kadang ia datang sebagai suara yang terus berkata,
“masih kurang.”
Ambisi tidak pernah benar-benar mampu berkata, “ini sudah cukup.”
Ambisi selalu meminta lebih.
Karena yang sedang dicari bukan selalu keberhasilan.
Sering kali yang sedang dicari adalah rasa cukup.
Aku mulai melihat bahwa di balik banyak keinginan manusia untuk menjadi lebih,
ada pertanyaan yang sering terlewatkan:
“Apakah aku sudah cukup?”
Apakah hidupku cukup berarti?
Apakah aku sudah mencapai sesuatu yang layak dibanggakan?
Apakah aku berharga dengan semua yang berhasil kukumpulkan?
Mungkin karena itulah dunia terus berlari.
Bukan karena ia tidak memiliki apa-apa.
Tetapi karena ada bagian dalam dirinya yang takut jika berhenti, ia akan berhadapan dengan kekosongan yang selama ini berusaha ia hindari.
Ketika rasa cukup dicari di tempat yang salah,
ambisi akan selalu menemukan alasan untuk terus hidup.
Ia akan terus meminta lebih.
Lebih banyak pencapaian.
Lebih banyak pengakuan.
Lebih banyak pembuktian.
Padahal tidak ada jumlah yang benar-benar mampu mengenyangkannya.
Semakin aku berjalan, semakin aku menyadari bahwa jawaban atas rasa kurang tidak pernah ditemukan dengan terus menambah.
Tuhan tidak pernah mengajakku hidup dari rasa kurang yang tidak pernah selesai.
Ia menghadirkan harapan dan kerinduan, untuk bertumbuh,
dengan batas dan kehendak-Nya.
Aku percaya hidup bukan tentang membangun jalan kita sendiri sejauh mungkin,
tetapi tentang belajar berjalan di dalam blueprint yang sudah Tuhan siapkan.
Dan blueprint Tuhan tidak pernah lahir dari kegelisahan.
Tuhan tidak tergesa,
tidak memaksa,
tidak membuat manusia kehilangan dirinya sendiri demi sampai lebih cepat.
Tuhan mengajakku melangkah, tanpa kehilangan damai.
Tuhan mengajakku bermimpi, tetapi tidak kehilangan arah.
Hidup yang Tuhan berikan bukanlah perlombaan untuk menjadi lebih dari yang lain.
Tetapi perjalanan untuk menjadi setia pada apa yang dititipkan-Nya.
Mungkin itu yang membuatku semakin hari semakin tidak tertarik pada hidup yang terus mengejar “lebih”.
Kerinduanku menjalankan hidup yang selaras semakin besar.
Selaras dengan waktu-Nya.
Selaras dengan kehendak-Nya.
Selaras dengan damai yang Tuhan letakkan di hati.
Kusematkan pertanyaan yang ingin terus kujaga,
bukan lagi:
“Apa lagi yang bisa kutambah?”
Tetapi:
“Apa yang sebenarnya sedang menggerakkan hidupku?”
“Apa yang sedang Tuhan percayakan kepadaku?”
Santi Konanjaya