Sebelum Hari Berlalu


Ada sebuah kutipan yang cukup tajam berdiam di hatiku:

“The unexamined life is not worth living.” – Plato in Apology.
Hidup yang tidak direnungkan tidak layak untuk dijalani.

Hidup di zaman yang serba instan, kenyamanan diri menjadi prioritas,
membuat manusia pun menjalani hidup dengan cepat,

Hari-hari terasa penuh.
Jadwal selalu padat.
Pikiran kerap berlalu lalang.
Tubuh ada di hari ini, tetapi ingatan sudah sampai di masa depan.

Batin terus berlari tanpa pernah sempat pulang.
Hari berlalu hanya dilewati, tanpa kehadiran.
Hingga tidak pernah benar-benar bertemu dirinya sendiri.

Dunia mengajarkan kita untuk terus bergerak.
Terus mengejar.
Terus mengisi hidup dengan sesuatu.
Melambat dipandang sebagai kemunduran.

Tidak banyak yang mengajarkan jeda,
berhenti sejenak,
duduk diam dan mendengarkan diri.

Padahal beberapa perjumpaan paling penting dalam hidup
justru terjadi dalam keheningan.

Saat seseorang berhenti sejenak,
lalu mulai bertanya dengan jujur:

“Aku sungguh hidup atau hanya bergerak?”

Merenungkan hidup bukan berarti menjadi pasif.
Bukan juga tenggelam dalam pikiran tanpa akhir.
Tetapi memberi ruang bagi jiwa untuk kembali sadar,
apa yang sedang dijalani,
apa yang sedang dikejar,
dan apakah semua itu masih selaras dengan kebenaran yang ingin kita jaga.

Merenungkan hidup bukan berarti kehilangan arah.
Karena tidak semua orang sibuk benar-benar hidup.

Sebagian hanya terus bergerak,
tanpa pernah sungguh hadir.

Hidup,
bukan hanya tentang bergerak dari satu hari ke hari berikutnya.
Hidup adalah tentang hadir.
Tentang sadar.
Tentang mengenali isi hati di hadapan Tuhan.


Di tengah dunia yang begitu bising,
kemampuan untuk berhenti sejenak dan merenungkan hidup menjadi keberanian yang mulai langka.

Keberanian untuk dengan jujur menyingkapkan apa yang ada di dalam diri,
bahkan hal yang tergelap sekali pun.

Karena,
ketika berhenti dan sungguh hadir,
seseorang akhirnya berhadapan dengan dirinya sendiri.

Kadang menemukan ketakutan.
Kadang berjumpa dengan luka yang belum selesai.
Kadang ambisi yang diam-diam menguasai hati,
atau motivasi yang tidak semurni yang kita kira.

Berhenti dan merenungkan bukan tentang menemukan jawaban untuk segala hal,
tapi melihat diri sendiri, tanpa topeng dan polesan.

Mungkin,
itulah alasan mengapa tidak semua orang menyukai keheningan.

Karena di sanalah kita melihat diri dengan jujur apa adanya.

Santi Konanjaya

··················