Sampul

Ada kegembiraan yang tenang setiap kali aku masuk ke sebuah library.
Ruang itu, selalu membuatku ingin berlama-lama di dalamnya.

Deretan buku yang memenuhi setiap rak,
aroma kertas yang khas,
dan suasana yang jauh dari ingar bingar.
Seperti memasuki sebuah dunia yang dipenuhi kehidupan.

Sekilas, semuanya tampak sunyi.
Orang-orang lebih banyak duduk sendiri,
tenggelam dalam halaman-halaman cerita.
Tidak banyak percakapan.
Tidak ada keramaian yang berebut perhatian.
Tapi di dalam keheningan itu, ribuan kisah sedang menanti perjumpaan.

Di satu rak, ada perjalanan seorang anak yang belajar berharap.
Di rak lain, ada kisah tentang berdamai dengan kehilangan.
Di satu sudut barisan buku, ada cerita tentang cinta,
tentang kegagalan,
tentang keberanian bertahan di tengah kesulitan dan tekanan,
atau tentang imajinasi-imajinasi penulis yang mengagumkan.

Ada seorang yang sedang belajar.
Ada seorang yang sedang mencari jawaban.
Ada seorang yang hanya ingin beristirahat dari dunia.
Mereka tidak saling mengenal.
Tetapi mereka berbagi ruang yang sama.

Tidak saling bersuara.
Tapi masing-masing membawa denyut kehidupan yang begitu kaya.

Semakin sering aku mengunjungi library,
semakin aku merasa bahwa tempat itu tidak hanya dipenuhi buku.
Ia dipenuhi manusia yang meninggalkan jejak-jejak kehidupan melalui tulisan.

Setiap buku lahir dari seseorang yang pernah menjalani hidup.
Yang pernah bertanya, mencari, jatuh dan bangun, lalu menemukan sesuatu yang layak dibagikan kepada dunia.

Bagiku, library adalah sisi lain sebuah kehidupan.

Kita sering kali hanya melihat tampilan luar,
lalu merasa sudah mengenalnya.
Padahal, seperti buku-buku di library, setiap manusia menyimpan halaman-halaman yang tidak terlihat.

Ada doa-doa yang belum pernah diceritakan.
Ada air mata yang tidak pernah ditunjukkan.
Ada perjuangan yang membuatnya tetap bertahan.
Ada cinta yang diam-diam menopang hidupnya.

Sepertinya, kita memang perlu melambat ketika memandang seseorang.
Tidak tergesa menyimpulkan.
Tidak cepat memberi label.

Karena setiap kehidupan membawa sesuatu yang lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Tuhan tidak pernah melihat kita seperti melihat sebuah sampul.
Ia membaca seluruh isi hati.
Ia mengenal setiap halaman yang bahkan tidak ingin kita buka di hadapan siapa pun.

Mungkin itulah yang diajarkan sebuah library kepadaku.

Bahwa kehidupan tidak pernah sesederhana yang tampak di luar.

Library tidak mendesak siapa pun untuk membuka sebuah buku.
Library hanya menyediakan ruang,
menyuguhkan pilihan.
Merasa cukup dengan sampulnya,
atau tinggal lebih lama di halaman-halamannya.

Karena…
hampir tidak ada kisah yang dapat dipahami hanya dari sampulnya.


Santi Konanjaya

··················