Tiga Jam

Untukku, Jogja tidak pernah gagal melahirkan cerita.
Sudut-sudut kota yang meninggalkan kata,
tempat-tempat dengan kearifan budayanya,
perjumpaan-perjumpaan yang tidak direncanakan.

Kala itu, aku mengunjungi rumah seorang perupa yang sudah sangat dikenal banyak orang.
Sebuah rumah yang luas, sarat akan karya seni.

Perkenalan yang menjadi pertemuan pertama….. dan terakhir.

Di sana aku tidak hanya dibuat kagum oleh karyanya.
Tapi justru yang mengendap lebih dalam,
adalah sosok di balik karyanya.

Tiga jam

Tidak membutuhkan waktu panjang untuk aku bisa merasakan bagaimana hidup beliau.

Sejak awal aku tidak merasa bertemu seseorang yang baru kukenal.
Aku diterima seperti teman lama.
Kami disambut di depan pagar rumahnya dengan senyum ramah.
Memakai sarung, dan selendang yang disampirkan di bahu,
sedang menyapu halaman.
Kemudian aku tahu bahwa inilah ciri khas penampilannya.

Kehangatan dan keakraban terasa mengisi udara tempat kami berjumpa.
Tidak ada jarak yang terasa perlu dijaga,
tidak ada percakapan yang dibuat-buat.

Di dalam rumah, setiap dinding tidak hanya berhias hasil karyanya,
ada juga karya-karya perupa tersohor, yang sekaligus guru-guru beliau.
Tapi semua itu tidak membuatnya terasa “jauh”.
Baginya rumah adalah ruang berbagi tanpa menjaga jarak.

Beliau mengajakku berkeliling ke workshop dan studio,
tempat hidup dan pekerjaannya berlangsung.
Melihat sudut-sudut di mana beliau menggoreskan perenungan, pengalaman dan percakapan hati nuraninya ke dalam kanvas.

Dari sana kami menuju galeri dan museumnya.
Mendengar cerita perjalanan hidupnya.
Jalan panjang yang membawanya sampai menjadi hari ini.

Ada banyak luka di dalam perjalanan itu.
Banyak kepedihan. Banyak kekecewaan.
Mungkin pula tak jarang datang keputusasaan.
Yang sebagian kemudian menemukan bentuknya di atas kanvas.

Setiap manusia membawa “bagasi”nya masing-masing, beliau pun begitu.
Luka, kesedihan, kekecewaan, kehilangan, sisi gelap diri yang mungkin tidak selalu bisa diungkapkan.

Ada yang membangun luka menjadi tembok.
Ada yang membiarkan kepahitan menjadikannya hakim atas manusia lain.

Tetapi ada pula yang, setelah melewati semuanya,
memilih untuk mencintai kehidupan.
Aku melihat ini pada beliau.

Sebagian besar karyanya lahir dari fragmen hidupnya.
Dan yang sangat terasa bagaimana beliau menghormati ibunya,
seperti yang beliau katakan, “Ibu adalah akar kehidupan.”

Aku tidak selalu bisa menerjemahkan lukisan-lukisannya.
Tetapi cara hidup beliau sangat terang terbaca di batinku.

Di rumah yang dipenuhi karya bernilai tinggi,
aku tidak menemukan seseorang yang sibuk melekatkan nilai yang diberikan orang lain kepadanya.

Beliau menolak memiliki gawai,
baginya interaksi yang nyata membawa kesan yang lebih dalam.
Beliau tidak berniat memahami barang-barang mewah,
apa yang ada di dalam dirinya, sudah cukup untuk bisa membuatnya tertawa dan bahagia.

Pribadi yang menjalani hari dengan apa adanya.
Membuka pintu rumah dan hatinya untuk siapa pun yang datang.
Tidak tampak sibuk memilah siapa yang penting dan siapa yang tidak.
Status, nama, posisi, atau apa pun yang dibawa, tidak mengubah cara beliau memandang manusia di depannya.

Aku pun merasakan bagaimana beliau merawat kehidupan.

Di belakang rumahnya terhampar halaman luas seperti sebuah hutan kecil.
Rimbun pepohonan, kolam ikan, bangku taman, suara air bergemericik,
menambah catatan tersendiri di hatiku.

Beliau mencintai alam dengan cara yang alami,
bukan sebagai sesuatu yang dipajang untuk dikagumi.

“Karakter manusia bisa terlihat dari bagaimana memperlakukan alam,
yang sama-sama ciptaan Tuhan.”


Kalimat itu tinggal di kepalaku.

Dari semua yang aku lihat, dengar dan simak, semuanya berbicara dalam satu bahasa: kesederhanaan.

Cara beliau memanusiakan manusia.
Cara beliau memperlakukan alam.
Seolah baginya, tidak ada yang benar-benar berada di luar lingkaran penghormatan.

Mungkin,
pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita capai.
Bukan tentang seberapa tinggi nama kita dikenal,
atau seberapa berharga yang kita hasilkan.

Barangkali lebih sederhana dari itu.
Tentang bagaimana sikap hidup kita kepada sesama.

Beliau bisa saja memilih untuk menjadi lebih tinggi,
tetapi beliau tetap membungkuk mengambil sapu.

Nilai karyanya tidak membuat beliau harus menaikkan dirinya sendiri di atas manusia lain.

Hasil karyanya menjadi mahal.
Tetapi hidupnya tidak menjadi mahal.


Lalu,
Apa sebenarnya yang membuat seseorang menjadi besar?
Apakah nama yang dikenal khalayak ramai?
Atau caranya menjadi manusia ketika dunia memberi alasan untuk menjadikannya lebih tinggi?

Barangkali kita terlalu sering mengukur manusia dari apa yang berhasil dicapainya.
Nama yang dikenal,
karya yang dihasilkan,
pengakuan yang diterima,
atau sesuatu lain yang membuat banyak orang berdecak kagum.

Padahal mungkin,
hidup bukan sekadar apa yang berhasil kita capai,
tetapi tentang
tetap menjadi setelah semua yang terjadi.

Jangan-jangan menjadi manusia memang bukan perkara menjadi luar biasa.
Jangan-jangan, di tengah dunia yang begitu sibuk membuat kita ingin terlihat lebih tinggi, lebih penting, lebih berhasil, lebih dikenal,
yang paling dalam adalah tetap menjadi manusia yang menjejak bumi.

Mungkin itulah yang kemudian membuatku mengerti, mengapa sosok beliau meninggalkan jejak yang begitu dalam sekaligus indah.

Nasirun.

Seorang perupa yang karyanya telah berjalan jauh.
Jauh melampaui rumah dan studionya.
Karya-karyanya memiliki nilai tinggi,
diminati begitu banyak orang,
dan menjadi bagian dari dunia seni rupa di dalam dan luar negeri.

Tetapi yang kulihat bukan hanya namanya yang besar.
Bukan hanya apa yang dilukisnya.
Tetapi siapa sosok yang pernah hidup di balik lukisan-lukisan itu.

Karya diwariskan.
Nama dikenang.
Lukisan berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain.

Tetapi ada sesuatu yang hanya bisa tinggal melalui orang-orang yang pernah berjumpa dengannya.

Sebuah percakapan.
Sebuah keramahan.
Sebuah cara memandang.
Sebuah rasa bahwa kita diterima apa adanya.

Aku kira, banyak orang yang merasakan hal yang sama ketika berada di dekat beliau.
Mungkin itulah salah satu warisan yang tidak tercatat dalam katalog,
tidak terpajang di dinding,
tidak memiliki harga.

Namanya akan diabadikan.
Banyak orang akan terus bercerita tentang perjalanannya dalam dunia seni rupa.
Seorang seniman besar yang hatinya tidak kalah besar.

Untukku, satu hal lain yang akan tinggal.

Seorang perupa yang kutemui di depan pagar rumahnya pada sebuah pagi di Jogja,
adalah seorang perupa yang tidak membiarkan nilai yang diberikan dunia atas karyanya menentukan nilai dirinya sebagai pribadi.

Aku datang untuk bertemu dengan seorang pelukis ternama.
Aku pulang membawa sesuatu tentang manusia.


Matur nuwun sanget, Pak Nasirun.

Cuplikan tiga jam cukup untuk aku belajar dan diingatkan kembali,
bahwa pada akhirnya,
yang perlu kita jaga bukan siapa kita ketika berhasil “menjadi”,
tetapi manusia yang Tuhan titipkan untuk kita hidupi.



Santi Konanjaya

Eksplorasi konten lain dari Catatan kecil dari yang memilih tinggal di kedalaman

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca