Bicara tentang usia seperti cerita tanpa halaman penutup.
seiring berjalannya waktu, selalu ada babak baru.
Satu hal dari bertambahnya usia yang belum bisa kuterima: uban.
Setiap kali helai-helai putih mulai tampak,
entah kenapa suasana hatiku ikut berubah.
Tiba-tiba wajah terasa lebih kusam, lebih lesu.
Seperti ada sesuatu yang hilang, spark.
Mungkin sebenarnya tidak ada yang berubah selain beberapa helai rambut putih.
Tapi aku merasakannya berbeda,
lalu hati mulai gaduh untuk segera mewarnainya kembali.
Anehnya,
hanya dengan rambut yang kembali gelap, suasana hatiku pun menjadi lain.
Merasa lebih segar, lebih punya energi, lebih percaya diri,
seperti ada tenaga yang muncul begitu saja ketika rambut punya satu warna.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Tetapi bukankah perasaan juga bagian dari kejujuran?
Aku belum punya keberanian untuk membiarkan rambutku menjadi putih keabu-abuan.
Belum.
Aku masih ingin mewarnai rambut.
Aku masih ingin melihat diriku dengan rambut yang membuatku merasa “hidup”.
Mungkin suatu hari nanti aku siap.
Mungkin juga tidak.
Aku rasa, menerima usia bukan berarti harus menyukai setiap perubahan yang datang bersamanya.
Boleh tetap ingin terlihat segar.
Boleh merawat kulitku.
Boleh menikmati ketika wajah terlihat cerah karena aku merawatnya.
Aku boleh merasa lebih percaya diri tatkala rambutku punya warna yang sama.
Merawat diri bukan berarti menolak usia.
Tetapi, kemudian aku berpikir:
Sejak kapan bertambah usia menjadi sesuatu yang harus diperbaiki?
Mungkin kita tidak pernah benar-benar menyadari.
Kulit yang mulai kehilangan kekenyalannya perlu dikembalikan.
Kerutan di wajah perlu disamarkan, bahkan kalau bisa dihilangkan.
Rambut yang memutih perlu diwarnai.
Wajah yang mulai berubah perlu dikembalikan kepada wajah beberapa tahun lalu.
Merawat diri tentu saja bukan sesuatu yang salah.
Aku pun melakukannya.
Dan manusia kontemplatif ini lagi-lagi bertanya:
Kapan keinginan untuk merawat bergeser menjadi keinginan untuk selalu terlihat muda?
Mungkinkah tanpa disadari kita sedang mencoba mengembalikan waktu?
Apakah aku sedang merawat karena mencintai diri,
atau ada rasa takut yang diam-diam menyusup hadir?
Takut terlihat tua.
Takut kehilangan daya tarik.
Takut ketika tubuh mulai berubah, ada sesuatu dalam diri yang ikut berkurang.
Rasa takut itu manusiawi.
Tetapi aku tidak ingin hidup dengan perasaan
bahwa setiap tanda usia adalah sesuatu yang mengancamku.
Karena tubuh manusia memang akan berubah.
Dan bukan berarti tubuh sedang punya masalah.
Ia hanya sedang menjalani waktunya.
Aku teringat ketika bertemu dengan wajah-wajah yang berusia lanjut,
yang selalu membuatku terkagum.
Bukan karena wajah itu tanpa garis.
Justru karena garis-garis itu tampak.
Ada sesuatu di sana yang tidak bisa dihasilkan oleh krim dan teknologi apa pun.
Jejak.
Ekspresi.
Kehidupan.
Setiap garis di wajah seperti mengingatkan,
sudah sejauh mana perjalanan mereka,
berapa banyak musim yang sudah mereka lewati.
Dan aku selalu menyukainya.
Mengapa semua itu harus dihapus agar wajah kita kembali seperti dulu?
Aku tidak harus memilih antara merawat diri dan menerima usia.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Aku belajar membedakan
antara merawat karena mencintai
dan memperbaiki karena takut.
Batasnya mungkin tidak selalu jelas.
Kadang hitam, kadang putih, kadang abu-abu.
Tidak apa-apa.
Menerima diri memang bukan sebuah titik yang satu hari kita capai lalu selesai.
Ia adalah percakapan panjang yang terus berubah bersama usia.
Hari ini aku mungkin masih belum siap dengan uban.
Besok mungkin aku akan melihatnya dengan cara yang berbeda.
Atau mungkin juga tidak.
Ketidaksiapanku hari ini tidak membuatku merasa gagal.
Aku belajar.
Melihat tubuhku bukan sebagai sesuatu yang harus terus dikoreksi.
Memandang wajahku bukan sebagai wajah yang kekurangan sesuatu.
Memahami bahwa bertambah usia bukanlah kehilangan masa muda.
Bertambah usia adalah bertambahnya sesuatu yang lain.
Pengalaman.
Kedewasaan.
Kedalaman.
Ingatan dan kenangan.
Juga kemampuan untuk melihat hidup dengan cara yang mungkin dulu tidak aku miliki.
Aku percaya bahwa tubuh ini bukan milikku sepenuhnya.
Ia adalah bagian dari hidup yang Tuhan titipkan kepadaku.
Kalau begitu,
tugasku bukan mempertahankan muda.
Tugasku adalah menjaganya dalam setiap musim yang Tuhan izinkan.
Mungkin sudah waktunya aku berhenti memperlakukan tubuhku
seperti sesuatu yang harus terus-menerus meminta maaf karena bertambah usia.
Aging gracefully.
Bertambah usia tanpa menjadikannya sebagai sesuatu yang harus terus dilawan.
Mungkin,
suatu hari nanti,
ketika aku kembali ke depan cermin dan melihat lebih banyak garis wajah,
aku akan diam sebentar.
Mengamati wajah itu,
wajah yang telah membawaku sampai hari ini.
“Ya sudah… memang di sinilah aku sekarang.”
Kenapa harus ditutupi?
Kenapa harus dipoles?
Santi Konanjaya
