Tak Harus Sempurna Untuk Tetap Setia

Aku tidak sedang mencari perhatian,
tidak juga sedang menebar kepedihan.
Aku hanya ingin jujur dan terbuka,
bahwa manusia bisa terluka,
meski memilih jalan aman bersama-Nya.

Aku tidak sedang menutupi kesedihan,
karena itu proses kehidupan.
jika aku mengatakan, murid-Nya,
tidak lepas dari salib yang harus kubawa.
Yang bisa kecewa, bisa lelah, bisa menangis dalam diam.

Dari sana aku belajar.
Bahwa setia, bukan tentang kuat dan cakap.
Setia adalah tentang pilihan,
Pilihan untuk tetap tinggal, meski hanya untuk diabaikan.
Pilihan untuk tetap ada, meski tidak selalu dianggap ada.

Aku dengan sadar menahan bicara,
bukan karena tidak punya kata-kata,
tapi karena tidak ingin menjadi prahara.
Aku dengan sadar tetap sabar,
bukan karena tidak punya batas,
Tapi karena sabar adalah jalan sempit yang aku sedang belajar.

Adakah saat-saat aku lelah? Tentu saja.
Ada malam di mana aku tidak lagi bisa bertahan dalam pasrah,
tapi aku menolak untuk menyerah.
Meski hanya diam dan berkata,
“Tuhan, aku lelah…”

Aku hanya sedang menjadi manusia,
yang berusaha jujur pada dirinya,
jujur pada keterbatasannya,
jujur pada kelemahannya,
jujur, ada jalan sempit yang harus dilaluinya.

Dan ketika aku bersikukuh pada setia,
setiap desir luka yang menyelinap,
setiap sabar yang menetap,
setiap helaan lelah yang mengendap.
Tuhan tidak pernah luput melihat.

Itu cukup bagiku.
Bukan karena aku mampu,
tapi karena aku benar-benar tahu,
Siapa yang memelukku.

Santi Konanjaya

Komentar

Feel free to share your story or thoughts in the comments.