Tulisan Tak Pernah Berdiri Sendiri

Ketika diam, aku membaca, dan Tuhan membentuk kata.

Seorang pernah berkata, “Membaca membawamu berkelana saat tubuhmu diam.”
Aku sepaham, karena setiap kali membaca, aku merasa sedang bepergian.
Kadang masuk ke ruang asing, kadang pulang ke dalam diri sendiri.

Membaca memperkaya kata, melatih rasa, dan menumbuhkan kepekaan.
Ia juga membuka mata hati, memberi sudut pandang baru, menyingkapkan makna, dan diam-diam membentuk imajinasi pada cerita yang tertuang.

Aku suka membaca sejak kecil, meski tak ingat pasti buku pertama yang membuatku jatuh hati pada karya tulis.
Setiap halaman adalah pintu menuju dunia baru,
dunia yang menjadi tempatku berguru.

Lewat membaca, aku belajar menulis.
Bagaimana bercerita tanpa suara,
bagaimana menuangkannya ke dalam kata,
bagaimana menerjemahkan isi kepala.

Buku menjadi temanku yang tenang.
Tak pernah gaduh, tak pernah menuntut,
selalu bersedia membawaku melihat peristiwa.

Dengan secarik kertas dan pena, aku menemani jejak para penulis,
mereka yang mendedikasikan hidupnya pada aksara dan tanda baca.

Dari membaca, aku belajar,
bukan hanya tentang menulis, tapi juga memandang kehidupan dengan lebih dalam.

Menulis adalah berkat.
Bukan karena aku pandai merangkai kata.
Tapi karena Tuhan menaruh kerinduan di dalamku,
kerinduan untuk memahami, untuk berekspresi, untuk menyentuh.

Tapi tanpa membaca, kata-kata menjadi hampa.
Tidak ada warna.
Tidak ada nyawa.
kehilangan arah.

Membaca dan menulis adalah kesatuan tak terpisahkan,
yang menuntunku menemukan suara sendiri.
Suara yang tidak nyaring, tapi bening.
Tidak terburu-buru, tapi selalu baru.

Karena menulis bukan tentang menjadi terlihat,
tapi tentang menjadi setia.
Setia pada Tuhan yang menitipkan anugerah,
setia pada proses yang tak selalu mudah,
setia pada komitmen untuk terus menulis meski hanya sebaris,
dan setia pada suara hati untuk selalu jujur dan murni.

Santi Konanjaya

··················

Komentar

Feel free to share your story or thoughts in the comments.