Ketika Aku Berhenti Bersembunyi

(Karena aku belajar menerima diri yang pernah kutolak)

Pernahkah merasakan takut yang sulit dijelaskan?
Bukan takut seorang diri, bukan juga takut akan sepi,
tapi takut tersingkap sebagai perempuan yang 'tidak utuh'.
Takut jika status yang disandang, yang dijalani, menjadi alasan orang untuk menjauh, menghakimi, atau menolak kita dari hidupnya.

Aku pernah berada di tempat itu.
Rasanya seperti menjadi ruangan yang dihindari,
meski nyala di dalam terang benderang.
Seperti duduk di sebuah tempat yang ramai,
tapi tidak satu pun mata benar-benar memandang.

Ketika di satu momen, aku diberi kesempatan kecil untuk tampil apa adanya.
Kehadiran yang akan terasa sebagai pengakuan yang ingin aku hindari.
Aku bertanya, “Apakah aku siap menjadi yang 'tidak utuh'?”

Perlu waktu cukup panjang untuk sampai ke titik,
“Ya, aku akan datang.”

Aku datang, bukan untuk membuktikan apa-apa,
bukan untuk bercerita tentang luka.
Tapi untuk memeluk diri... sepenuhnya.
Karena aku lelah untuk terus hidup bersembunyi dari bagian yang sebenarnya sudah Tuhan lunasi.

Dan di momen itulah aku menemukan ketenangan yang selama ini tersembunyi:
bahwa berdamai tidak selalu berarti semuanya baik-baik,
bahwa berdamai adalah ketika aku tidak lagi lari dari yang tidak bisa diganti,
dari label yang dunia anggap tidak komplit.

Hari ini,
aku ingin memeluk dan mendoakan siapa saja,
yang masih menghidupi rasa takut di balik senyum,
yang masih merasa status adalah aib dan perlu tersembunyi,
seakan bukan bagian dari kisah pulih yang Tuhan sedang tulis.

Aku ingin berkata:
Tidak ada yang perlu ditutupi dari Tuhan yang mengenal kita, jauh sebelum kita mengenal diri sendiri.
Tidak ada yang terlalu rusak untuk Tuhan kasihi,
dan tidak ada cerita yang terlalu kelam untuk dijadikan indah di tangan Ilahi.

“Engkau berharga di mata-Ku, mulia, dan Aku mengasihimu.”
(Yesaya 43:4)

Jika hari ini kamu sedang berada di tempat itu,
bersembunyi dalam ketakutan akan penolakan.

Bolehkah aku bisikkan sesuatu?

Tuhan tidak pernah mengasihi karena status.
Dia tidak menunggu kita rapi dan lengkap.
Yang Dia minta hanyalah hati yang terbuka,
dalam pengakuan yang lahir dari keberserahan.
Kasih-Nya tak bersyarat.
Penerimaan-Nya tidak menunggu kita sempurna.

Mungkin kamu belum bisa percaya. Tak apa.
Tapi izinkan satu hal ini tinggal di hatimu:

Kamu berharga, bahkan ketika kamu belum bisa percaya bahwa kamu layak.

Dan jika suatu hari nanti kamu ingin duduk,
diam sejenak,
dan mulai memeluk bagian dirimu yang selama ini kamu tolak,
aku ingin kamu tahu,
selalu tersedia tempat untukmu..
di dalam senyum dan peluk-Nya.

Serahkan pada Sang Pemilik,
yang memeluk sukamu, juga lukamu.
Sampai kamu merasakan, “Aku begitu berharga di mata-Nya.”

Aku akan selalu di sini,
di ruang kecil dengan penerimaan tanpa “tapi”
menunggumu pulang, saat kamu siap kembali.


Santi Konanjaya

··················

Komentar

Feel free to share your story or thoughts in the comments.