Tenang Tanpa Syarat (2)

Damai ini tak bisa dirangkum dalam kata.
Bukan karena kondisi yang membaik.
Bukan karena masalah sudah selesai.
Bukan pula karena semua berjalan seperti yang diharapkan.

Damai yang, menurut dunia, tidak logis.
Ia hadir di tengah gelombang,
saat langit masih gelap,
dan jawaban belum juga datang.

Dunia tidak bisa memahaminya.
Dunia mengukur damai dari tenangnya keadaan,
dari tidak adanya konflik, tidak adanya kehilangan.

Ketika seseorang tersenyum di tengah badai,
dunia menyebutnya tidak wajar, tidak nyata.

Tapi seperti yang ditulis Rasul Paulus:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…”
Karena ada cara lain untuk hidup.

Cara yang tidak menunggu badai reda untuk menjadi tenang.
Cara yang tidak perlu fakta untuk percaya,
bahwa ada pemeliharaan yang sedang bekerja.

Damai yang datang dari-Nya,
tidak tunduk pada keadaan.
Ia tinggal, menetap, dan mengakar,
di hati yang berserah.

Mungkin, itu sebabnya iman begitu berharga.
Memang tidak selalu mudah,
tapi ia membentuk kita,
untuk tidak lagi hidup hanya dari apa yang tampak,
melainkan dari Pribadi yang tak terlihat, namun nyata,
yang lebih hadir, lebih dekat,
lebih dari apa pun yang bisa disentuh mata.

Santi Konanjaya

··················

Komentar

Feel free to share your story or thoughts in the comments.