Yang Diam-Diam Menjadi Kita

Kita terbiasa percaya pada apa yang dilihat mata.
Dengan segala pesonanya, ia membentuk siapa kita.
Apa yang kita lihat, perlahan berubah menjadi kepercayaan.
Sebuah belief yang tidak terucap, tapi mendalam.

“Eh, kamu tahu? Katanya di sana sudah ada taman tempat anak-anak bermain.”
“Tadi aku lewat, masih tanah kosong, belum ada apa-apa.”
Tanpa sadar, yang melihat menjadi sumber kebenaran.

Belief seperti apa yang kita izinkan masuk ke dalam pikiran?
Seperti makanan yang kita konsumsi,
we are what we eat, begitu kata mereka.
Mungkin benar, kita adalah apa yang kita percaya.

Sebab apa yang kita percayai, diam-diam membentuk pola pikir.
Disadari atau tidak, dari situlah hidup perlahan-lahan digerakkan.
Karena keyakinan bukan sekadar ide di kepala,
tapi akar yang melahirkan keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan.

Segala yang masuk, menentukan apa yang keluar.
Itu kenapa kita perlu jernih memilih apa yang kita izinkan masuk.
Ketika yang masuk adalah kabut, hidup pun berjalan dalam kabut.
jika yang masuk adalah terang, langkah pun akan memiliki arah.

Iman adalah pegangan yang kita hidupi dan percayai
meski mata belum menyaksikan bukti.
Dan sering kali, yang tak terlihat itulah yang paling setia membentuk karakter diri.

Iman bekerja seperti akar,
tertanam, tapi menopang pohon kehidupan.

Iman bukan tentang apa yang bisa dibuktikan mata,
tapi tentang apa yang tetap kita pegang saat dunia menyuguhkan yang berbeda.
Karena ketenangan yang murni, tidak datang dari luar,
tapi dari Dia yang tinggal di dalam.

Santi Konanjaya

··················

Komentar

Feel free to share your story or thoughts in the comments.