Ada bagian dari cinta yang sulit kita akui,
bahwa semakin mencintai,
semakin besar keinginan untuk memiliki.
Ada naluri dalam diri seorang ibu untuk menggenggam erat,
untuk melindungi, mengarahkan, menjaga.
Perlahan, kita menyatakan: “mereka milikku”.
Dan segala yang diberi label "milik",
biasanya sulit untuk dilepaskan.
Kadang, cinta itu begitu kuat hingga berubah wujud:
menjadi kekuatiran,
menjadi dorongan untuk mengatur,
menjadi hasrat untuk mengendalikan.
Kontrol yang lahir bukan dari kasih yang memerdekakan,
melainkan dari ego dan takut yang diam-diam bersembunyi di balik cinta.
Takut kehilangan kendali atas anak.
Takut mereka menjauh.
Takut kehilangan peran.
Takut tak lagi dibutuhkan.
Menggenggam erat, menjadi upaya kita untuk menyingkirkan ketakutan itu,
meski sesungguhnya, ketakutan itu tak pernah benar-benar pergi.
Sebenarnya,
cinta diuji bukan dari seberapa erat kita bisa menggenggam,
melainkan dari seberapa ikhlas kita bisa melepaskan.
Kita memanggilnya anak.
Kita bentuk dunia mereka sejak tangis pertama.
Kita ada di awal dunia anak tercipta.
Maka wajar saat mereka tumbuh ke luar,
ada rasa kehilangan yang tak tahu harus dikemanakan.
Mungkin kita belum sepenuhnya percaya,
bahwa hidup mereka ada di Tangan yang lebih besar dari kita,
Tangan yang jauh lebih layak memiliki mereka.
Dan mungkin, inilah saat cinta berganti peran:
dari pengasuh menjadi pendoa,
dari pengarah menjadi pendengar,
dari pusat dunia mereka menjadi penonton setia di pinggir arena,
yang tetap bersorak meski tak lagi ikut bermain.
Di sana, self-control menemukan bentuknya:
bukan dalam diam yang menjauh,
melainkan dalam diam yang percaya.
Melepas memang tidak pernah mudah.
Kita tidak berhenti mencintai.
Kita hanya belajar mencintai dengan cara
yang baru.
Cara yang tak lagi mencengkeram,
cara yang tak lagi menuntut,
cara yang menyerahkan,
karena percaya bahwa yang kita lepaskan,
tak pernah terlepas dari Tangan Tuhan.
Tangan yang melepas,
agar anak belajar kata tanggung jawab.
Tangan yang melepas,
adalah cara seorang ibu menyiapkan anaknya di hari depan.
Agar ketika ibu tiada, mereka tahu bagaimana memelihara kehidupan di dalam-Nya.
Dan mungkin, di sana,
di tempat di mana kita tidak lagi menjadi pusat,
kita justru menemukan bentuk cinta yang paling utuh:
cinta yang tidak menuntut,
tidak meminta dikembalikan.
Cinta yang tak pernah menolak.
Cinta yang hanya memberi,
tanpa kondisi.
Kasih seorang ibu, pada akhirnya,
selalu menemukan cara untuk tinggal,
meski dalam keheningan.
Santi Konanjaya