Seorang memberi karena mampu.
Seorang memberi karena tahu itu baik.
Tapi tidak semua pemberian lahir dari hikmat.
Kadang yang tampak seperti kasih,
bisa menjadi bumerang yang menjebak.
Bagi yang menerima, jadi lengah dan terlena,
lalu tanpa sadar menaruh harap bukan lagi pada Tuhan,
tapi pada tangan manusia.
Yang memberi, jika tanpa pertimbangan,
tak sadar sedang menciptakan ketergantungan.
Bukan lagi menolong,
tapi menanamkan ‘mindset’ untuk terus mengandalkan.
Memberi tanpa hikmat,
ibarat menyalakan api tapi tidak tahu cara memadamkannya.
Tujuannya baik,
tapi hasilnya bisa jadi manipulasi yang tersembunyi,
atau intimidasi halus yang tersamar dengan kata ”tolong”.
Kebaikan membutuhkan kebenaran.
Memerlukan kasih yang dewasa,
yang tidak didorong rasa “tidak enak hati”,
tapi oleh pemahaman akan kehendak Bapa.
Karena tidak semua memberi itu menolong.
Kadang justru menghalangi seseorang belajar.
Secara tidak sadar, kita menjadi hambatan bagi proses Tuhan
dalam kehidupan orang lain.
Tuhan pun tidak selalu memenuhi permintaan.
Ia tidak menjawab semua suara.
Kasih-Nya tidak terlihat sebagai iba atau kasihan.
Kadang, Ia membiarkan kesulitan,
agar hati belajar bergantung pada-Nya, bukan pada manusia.
Dan mungkin, saat kita ingin segera turun tangan,
Tuhan sedang berbisik,
“Aku tidak sedang berkata ‘berikan’, tapi ‘kuatkan’.”
Bukan karena Dia tak peduli,
Justru karena Dia sangat memperhatikan kedewasaan batin,
yang jauh lebih berarti daripada sekadar memenuhi keinginan lahir.
Kasih yang dewasa, tahu kapan harus memberi,
dan tahu kapan harus berkata cukup.
Karena tidak semua yang bisa diberikan,
harus diberikan.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.