Trilogi Batin

(Selalu kembali, Selalu Percaya, Selalu Mencintai)

Ketika Kehendak Ditundukkan

Kadang aku merasa seperti orang yang tidak punya keinginan diri sendiri.
Tentu saja aku punya keinginan dan aku tahu apa yang kuinginkan.
Tetapi aku belajar untuk tidak menjadikan keinginanku pusat dari segala sesuatu.

Dulu, atas nama diri,
aku bertindak,
aku memilih,
harus aku terlebih dulu,
aku menentukan,
aku memastikan.

Sekarang, aku lebih sering meresponi dengan sikap hati, “Apa pun bukanlah sebuah kebetulan.”
Aku tidak pasrah tanpa arah, aku hanya percaya Tuhan tahu mana yang paling tepat,
bahkan ketika aku sendiri belum tahu apa yang sebenarnya kubutuhkan.

Dunia mungkin melihatku sebagai pribadi yang pasif,
Tak apa, aku mengerti apa yang kuhidupi.
Aku tidak kehilangan keinginan, aku hanya menundukkannya pada Kehendak yang lebih tinggi.
Aku tidak mati rasa,
aku hanya memilih untuk tidak diperbudak oleh rasa.

Menerima apa yang datang dengan syukur.
Tidak lagi menuntut hidup untuk selalu berjalan sesuai keinginanku,
di sanalah hatiku menemukan damai yang sesungguhnya.
Bagiku, menundukkan keinginan membuahkan kemerdekaan yang tidak bisa dituangkan ke dalam kata.
Karena setiap kali aku belajar berkata, “Baiklah, Tuhan, jadilah kehendak-Mu,”
aku sebenarnya sedang belajar taat dan percaya,
bahwa apa pun yang sampai di tanganku,
sudah lebih dulu melewati tangan-Nya.

Santi Konanjaya

··················