Menyelesaikan 462 halaman “Pulang” memang terasa cepat,
tetapi hening yang ditinggalkannya menetap jauh lebih lama.
“Pulang” tidak hanya bercerita tentang cinta, pengkhianatan, pengasingan,
atau sejarah yang tak pernah benar-benar usai.
Buku ini juga tidak berusaha menuntun pembacanya pada kesimpulan akhir.
Buku yang tidak berteriak, tidak menghakimi, dan tidak berisik.
Ia memilih berbicara pelan,
memberi ruang bagi pembaca untuk mendengarkan,
dan memutuskan sendiri apa yang ingin dibawanya pulang.
Buku ini menatap pembaca, sambil bertanya,
“Di mana kamu berdiri hari ini?”
Kisah Dimas Suryo dan tiga temannya yang terusir dari tanah air bukan sekadar perjalanan fisik.
Ini adalah perjalanan manusia yang tercerabut dari rumah, dari masa lalu,
dan perlahan… dari dirinya sendiri.
Mereka berusaha hidup di dunia yang tidak mencatat nama-nama mereka,
sejarah yang keruh memaksa mereka hidup di tepi hidup orang lain.
Mereka tidak diberi pilihan kepulangan,
hanya tempat untuk meneruskan perjalanan sambil bertahan.
Dibayangi sejarah yang tak pernah benar-benar menoleh kembali.
Di balik semua itu, ada satu luka yang paling sunyi:
tidak tahu lagi di mana harus meletakkan pulang.
Di titik itu batinku disentuh.
Karena bukankah kita semua,
dalam cara yang berbeda,
pernah, atau sedang, mencari jalan pulangnya sendiri?
Dalam novel ini, kepulangan juga mengambil bentuk lain:
bukan tubuh yang kembali,
tapi suara seorang ayah yang akhirnya pulang kepada anaknya.
Surat Dimas kepada Lintang,
menyisakan satu kalimat yang mengendap lebih lama dari yang lain:
“Tidak memilih Nara atau Alam, itu juga berarti memilih.
Memilih sendiri dan sepi.”
Kalimat itu terserap pelan ke dalam batinku,
meneguhkan sesuatu yang kuhidupi.
Bahwa diam pun adalah keputusan.
Tidak melangkah adalah langkah.
Tidak bersama siapa-siapa,
adalah bentuk keutuhan yang dipilih dengan sadar.
Di kisah ini, pilihan tidak selalu membawa kemenangan,
tetapi ia selalu menuntut kejujuran.
Kesendirian memang kerap akrab dengan sepi.
Namun sepi tidak selalu berarti kosong.
Kadang ia justru menjadi tempat paling jujur untuk berpijak,
tanpa berandai-andai, tanpa ekspektasi,
tanpa memaksa apa pun terjadi di luar waktunya.
Dari perjalanan Dimas dan Lintang,
di mana mereka hidup di antara dua tanah,
aku mengerti satu hal:
Pulang bukan tentang kembali ke Jakarta.
Bukan tentang kembali ke masa lalu.
Bukan pula tentang memperbaiki apa yang tak lagi bisa diperbaiki.
Pulang adalah arah batin menuju keutuhan.
Ia adalah keberanian untuk kembali mengenali diri apa adanya,
yang tidak dibentuk dari ketakutan,
tidak dikeruhkan oleh dunia.
Pulang, bukan menggali luka lama,
tapi belajar hidup bersama tanya yang tak selalu selesai dengan jawaban.
Pulang adalah kompas.
Selagi kita bersedia mendengarnya,
tidak ada lagi kehilangan arah.
Mengikuti kisah ini hingga halaman terakhir
tidak membuatku merasa lebih kukuh,
tapi merasa lebih mengerti di mana aku ada saat ini.
Sebuah keheningan yang mempertegas arah.
Dari keheningan itu,
lahirlah pesan kecil ini untukku,
dan mungkin juga untuk banyak pembaca Pulang di luar sana:
Sering kali ego ingin kembali mengambil tempatnya.
Jika kamu tahu ke mana arah pulang,
jagalah suara hatimu itu.
Dan hanya dengan kejujuran,
kamu mampu melihat jalan pulang dengan tembus pandang.
Pada akhirnya, aku belajar bahwa pulang
bukan soal menemukan jalan,
melainkan menjaga “pusat”.
Pusat yang menggerakkan setiap langkah,
meski mungkin “pulang” itu tak pernah mencapai rumah.
Karena tanpanya,
kita mudah tersesat
oleh suara dunia dan ambisi diri sendiri.
Pulang bukan tentang tiba di sebuah tempat.
Pulang adalah tentang di mana hati kita menetap.
Santi Konanjaya