(Selalu kembali, Selalu Percaya, Selalu Mencintai)
Hati Yang Merdeka
Ada masa dalam hidupku,
ketika aku sibuk berusaha menjadi “terlihat” di mata dunia.
Aku mengejar pengakuan yang tak pernah benar-benar memuaskan hati.
Dulu aku kuatir “tertinggal”,
takut dianggap tidak penting dan tidak diperhitungkan.
Aku berlari mengejar, tanpa sadar aku kehilangan arah.
Lalu perlahan, aku sadar,
aku tidak perlu membuktikan apa-apa pada dunia.
Karena sejujurnya, segala yang ditawarkan tidak bisa benar-benar mengisi gelas yang kosong.
Pada satu titik, aku berhenti menimbang pandangan orang,
dan mulai tunduk pada arah yang Tuhan tunjuk.
Diamku bukan karena lemah, bukan karena kehilangan kepedulian,
tapi karena aku sudah menemukan Sumber mata air yang mampu membuatku penuh dan utuh.
Sikap hati tidak lahir dari logika, tapi dari perjumpaan.
Entah berapa kali aku melihat Tuhan bekerja di balik hal-hal kecil,
hingga aku tahu: tidak ada kebetulan.
Apa pun yang singgah di batinku adalah sebuah bukti bahwa Dia hidup dan mengendalikan hidupku.
Ketika aku berhenti menuntut hidup berjalan sesuai caraku,
aku justru menemukan kebebasan sejati.
Bukan kebebasan untuk melakukan apa yang aku mau,
tapi kebebasan untuk mempercayakan semuanya kepada Dia yang tahu segalanya.
Percayalah, menjalani hari akan menjadi lebih ringan.
Aku tahu arah hatiku sudah berbeda.
Aku tidak lagi hidup dari keinginan,
tetapi dari keyakinan.
Bahwa setiap langkah yang kutapaki
adalah bagian dari rencana-Nya yang selalu baik.
Santi Konanjaya