(Catatan Penutup Tahun)
Sampailah aku di sini,
tiga ratus enam puluh lima hari serasa berlari.
Aku tidak berlari mengikuti.
Justru ada banyak rasa yang diam dan menetap di tahun ini.
Tahun yang tidak meninggalkan daftar pencapaian.
Tidak ada kemenangan,
tidak pula kelegaan karena segalanya rampung dan selesai.
Yang tersisa adalah kesadaran,
bahwa ada banyak hal yang tak lagi perlu kupegang.
Perlahan, hidup membawaku ke titik,
di mana menggenggam justru terasa berisik.
Ternyata aku tidak perlu lagi sibuk dengan diriku sendiri.
Bukan karena aku sudah membereskan segalanya,
tetapi karena aku sekarang mengerti,
banyak hal yang tidak lagi memerlukan pembenaran.
Tidak ada tuntutan untuk menjelaskan,
atau memastikan diriku harus dipahami.
Tidak semua hal harus berakhir di “aku”.
Mungkin, begitulah rasa selesai dengan diri.
Tidak karena sudah meraih semua mimpi,
tapi selesai karena berhenti melawan yang semuanya terpusat ke diri.
Aku tidak mengingkari sesak yang datang.
Aku tidak menyangkal, ada masa-masa langkah terasa berat,
ketika yang tersisa hanyalah helaan napas panjang,
tinggal dan diam,
di jalan yang terasa sunyi dan kerap sendiri.
Tahun ini aku belajar, apa itu menanggalkan.
Semakin sedikit yang kugenggam,
semakin jelas apa yang perlu kutitipkan.
Semua diselaraskan dan dimurnikan,
dari cara memandang diri, cara melihat ke luar,
dan dorongan halus untuk tidak lagi menjadi pusat.
Ada hal-hal yang dulu perlu kutunjukkan,
kini tidak lagi menuntut kehadiranku di depan.
Aku tidak merasa perlu memastikan siapa yang melihat, bagaimana orang memandang,
atau bagaimana semuanya dinilai.
Pusat itu sudah bergeser,
dan aku tidak lagi harus berdiri di tengahnya.
Semua ini memberiku kebebasan yang memerdekakan, langkah terasa ringan.
Tentu tidak menghapuskan tanggung jawab,
tidak menghilangkan pergumulan,
tapi memberiku ruang untuk bernapas,
tanpa harus terus memaksakan menekan diri sendiri.
Di penghujung tahun ini,
aku tidak membawa rangkuman dan kesimpulan.
Yang kubawa adalah ketenangan,
bahwa hidup yang dituntun, sudah lebih dari cukup.
Aku tidak tahu apa yang menunggu di hari esok,
dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak mengerikan.
Ada damai yang tinggal, ketika aku berhenti mengamankan masa depan,
memilih memercayakan arah,
selangkah demi selangkah.
Karena Dia adalah pelita.
Tulisan ini lahir sebagai persembahan kecil yang ingin kukembalikan kepada Pemilik kehidupan.
Dan ketika halaman ini ditutup,
aku tahu satu hal:
catatan ini belum selesai.
Aku akan melanjutkannya,
dengan langkah yang sama,
dengan pusat yang bukan lagi “aku”,
dan dengan kebulatan hati,
Tuhan yang memulai, Tuhan juga yang akan menyelesaikan.
Santi Konanjaya