Have a Little Faith

(Kembali pada Cukup)

1. Aku tidak sedang mencari, tapi Kau tetap menemui.
Perlu waktu lama untuk menyelesaikan buku ini.
Entah mengapa, selalu ada yang membuatku berhenti dan mengendapkan apa yang tertuang di halaman demi halaman.
Kucatat setiap bagian yang membawa getaran dalam di batinku.

Mitch Albom tidak mengajarkan tentang agama,
tidak juga mengajarkan sesuatu yang asing.
Buku ini justru menamai sesuatu yang sudah lama Tuhan kerjakan di dalam diriku.

“Have a Little Faith”
Menuntunku pada iman.
Iman yang tidak bisa dikurung oleh nama,
tidak bisa dipagari oleh ritual.
Dan tidak dibatasi oleh apa yang dibuat manusia.

2. Dua jalan, satu arah
Di dalam buku ini, aku berjumpa dua tokoh yang datang dari arah yang berlainan.
Seorang Rabbi tua yang setia dalam keheningan imannya.
Dan seorang Pendeta dengan masa lalu yang gelap dan berantakan.

Mereka tidak datang dari tempat yang sama.
Mereka berangkat dari masa lalu yang berbeda,
luka yang berbeda, dan jalan yang tidak serupa.
Namun keduanya berdiri menghadap Tuhan dengan cara yang sama: jujur apa adanya.

Dari mereka aku belajar,
bahwa iman tidak selalu lahir dari hidup yang rapi.
Ada kalanya iman justru tumbuh dari reruntuhan dan puing-puing yang secara manusia sudah tidak bisa ditata kembali.
Kadang ia tumbuh dari kesetiaan yang panjang dan sepi, di jalan-jalan sempit.

Rabbi Albert Lewis mengajariku tentang iman yang tenang,
yang tidak terburu-buru menjelaskan,
yang tidak merasa perlu membuktikan apa-apa.

Pendeta Henry Covington mengajariku tentang iman yang lahir dari pertobatan yang sesungguhnya,
dari hidup yang kelam, lalu berbalik arah menuju terang.

Dua jalan yang tidak saling meniadakan, tapi saling meneguhkan.

Di sini aku melihat dengan jernih:
bahwa Tuhan tidak bekerja dengan satu pola yang sama atas setiap manusia.
Cara-Nya terlalu luas untuk dipersempit oleh batas yang manusia ciptakan sendiri.

Dari cerita dua tokoh ini, aku melihat bahwa yang menyatukan mereka bukanlah agama.
melainkan keberanian yang sama untuk melepaskan dan berserah dalam kerendahan hati.

Buku ini tidak sedang membandingkan siapa yang lebih benar,
tapi sedang menunjukkan,
bahwa Tuhan bekerja di jalan-jalan yang berbeda, dengan cara yang sama-sama nyata.

Aku melihat kebesaran Sang Pencipta.
Tuhan bekerja di luar pagar manusia.
Tuhan tidak bergerak di dalam sekat,
atau label-label tertentu.
Tapi di dalam kasih yang menyentuh semua manusia yang diciptakan-Nya.

3. Kembali pada kata cukup
Ada satu kalimat yang cukup lama aku endapkan:
“I have what I need, why bother chasing more?”

Kalimat itu sederhana.
Tapi membuat langkahku melambat dengan jeda panjang.

Sejak itu, aku membaca dengan lebih pelan.
Buku ini tidak sedang berbicara tentang kepemilikan,
tapi tentang mengingatkan kembali akan kata cukup.

Di banyak bagian, aku menemukan gambaran tentang tangan yang menggenggam,
dan tangan yang akhirnya melepaskan.
Tentang manusia yang datang, ingin memiliki segalanya,
dan meninggalkan satu hal yang tidak bisa dipegang: jiwanya sendiri.
Pada akhirnya, yang terpenting dalam hidup adalah yang tidak tampak.

Buku ini juga berkisah tentang house dan home.
Bagaimana dunia berlomba membangun house yang semakin besar.
Sementara home… yang berisi rasa aman, kasih, dan kehadiran, sering kali terlupakan.

Di antara halaman dan kisah ini,
lahir sebuah pertanyaan sederhana
namun nyaring bunyinya:
Apa yang sebenarnya masih kukejar?

Ayat ini datang tidak lama setelahnya:
“Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”
(Matius 16:26)


Aku tidak hanya berhenti dan menutup buku perlahan, tapi juga menutup mataku.
Ini bukan hanya sekadar teguran keras,
tapi juga undangan untuk memeriksa arah.

Seakan Tuhan sedang berkata dengan lembut:
bahwa tidak semua yang bisa dikejar perlu dikejar.
Dan tidak semua yang membuat sibuk, membuat jiwa hidup.

Aku sepakat,
bahwa cukup bukan soal sedikit atau banyak,
melainkan soal keutuhan.
Soal tahu kapan berhenti menggenggam,
dan mulai belajar melepaskan.

4. Dilepas untuk dijaga
Ada satu kata yang tinggal lama ketika aku membaca buku ini:
dipisahkan.

Bukan vonis.
Tapi proses.

Di sepanjang perjalanan tokoh-tokoh dalam buku ini,
aku melihat bagaimana Tuhan bekerja,
bukan lewat keramaian, keberhasilan, atau pengakuan.
Tapi justru lewat kehancuran, kesendirian, kehilangan, dan jalan yang menyempit.

Pendeta Henry dipisahkan dari hidup lamanya.
Dari kekerasan.
Dari narkoba.
Dari kehancuran jati dirinya.
Dari dunia yang menguasainya.

Rabbi pun, dengan caranya sendiri,
menjalani kehilangan dan kesunyian yang panjang.
Melewati akhir hidup dengan iman yang tetap percaya, meski tubuh makin melemah.
Menunggu dengan damai dan tenang, tanpa kepanikan, tanpa tuntutan.

Inilah keindahan cerita dua tokoh di buku ini,
Pendeta Henry mengalami “gelap” yang meledak di luar,
Rabbi Albert menempuh “gelap” yang tertahan di dalam.
Kisah yang berbeda, tapi menyentuh titik yang sama:
Keduanya mengalami perjumpaan dengan-Nya, dan dijamah tangan-Nya.

Cara Tuhan memang tak terselami akal manusia.
Tuhan menebus yang jatuh ke jurang dalam dan gelap,
Tuhan juga yang setia menemani di jalan sempit, sepi dan tak ada sorotan.

Di titik itu aku memahami:
ada sepi yang bukan untuk melukai,
ada sepi yang tidak kosong.
Tapi untuk memurnikan dan melepaskan.

Sepi yang bukan tentang ditinggalkan,
melainkan tentang dilepaskan dari banyak hal yang sebelumnya terasa penting.

Tuhan sedang menyederhanakan ruang hidup manusia,
supaya yang tersisa hanya yang benar-benar perlu.

Ada kebenaran sunyi yang kutemui di bagian ini,
bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan.
Tidak semua yang dilepas berarti dicabut.
Ada yang justru dilepas karena sedang dijaga.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari dipisahkan itu sendiri,
bukan dijauhkan dari kasih,
melainkan ditarik lebih dekat ke pusatnya.

Melepaskan tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang itu justru cara Tuhan menjaga kemurnian.

5. Kasih yang melampaui sekat
Di bagian lain,
cerita tentang anak Rabbi yang memerankan Yesus di sebuah pertunjukan sekolah.

Seharusnya ini menjadi peristiwa yang canggung.
Seharusnya ada keberatan.
Seharusnya ada jarak.
Seharusnya ada batas.
Tapi semua itu tidak terjadi.

Yang ada justru penerimaan.
Aku melihat sesuatu yang sederhana,
tapi tak banyak orang sanggup:
Kasih yang tidak sibuk memberi label.

Aku seperti diingatkan kembali,
bahwa kebencian sering kali menyamar sebagai iman tanpa kasih.
Merasa yang paling benar,
dan yang berbeda pasti salah.
Sedangkan iman yang lahir dari kasih Tuhan, tidak pernah melahirkan kebencian.

Kalimat ini terngiang pelan dan bertahan di dalam diriku.
“That is not faith, that is hate.”

Aku tidak membaca itu sebagai tuduhan,
tapi sebagai cermin.

Perbedaan yang kita pegang dengan begitu erat,
ternyata tidak pernah lebih besar dari Sumber yang sama yang menghadirkan kita.

Sesuatu di dalam diriku dilembutkan lagi.
Tentang cara memandang sesama.
Tentang cara memandang iman orang lain.
Tentang cara memandang Tuhan yang ternyata jauh lebih besar dari semua bingkai yang sering kali manusia buat untuk-Nya.

Aku tidak merasa perlu membela apa pun.
Tidak juga merasa perlu membuktikan apa pun.

Aku hanya belajar satu hal yang sangat sederhana:
bahwa relasi bersama Tuhan,
bila sungguh-sungguh hidup,
akan selalu berbuah kasih.


6. Pulang dalam keutuhan
Di akhir perjumpaan, yang tertinggal adalah satu rasa yang tenang: pulang.

Aku tidak menyangka bahwa Henry pun akhirnya menyusul Albert.
Namun yang mengherankan bukanlah perpisahan itu,
tapi damai yang menyertainya.

Seolah hidup mereka,
yang melangkah di jalan yang berbeda,
akhirnya bertemu di satu titik yang sama: pulang.

Aku tersenyum dengan sebuah pemahaman,
bahwa finishing well tidak selalu berarti hidup yang semua sudah selesai,
atau kisah yang tanpa luka.
Bahwa finishing well lebih sering berarti:
kembali pada keadaan utuh.

Bukan utuh karena tidak pernah jatuh,
tetapi utuh karena pernah remuk,
dan berjalan lagi dengan keberserahan.

Aku menutup buku ini tanpa euforia.
Tidak ada yang fantastis dan dramatis,
yang ada hanyalah keheningan pelan dan sederhana.

Ada banyak hal yang bisa dikejar.
Ada banyak hal yang bisa dikumpulkan.
Tapi setelah perjalanan ini,
aku tahu, mana yang tidak ingin lagi kutinggalkan.

Dan aku menutupnya dengan satu napas:
“Kristus cukup bagiku.”

Santi Konanjaya

··················