Di Antara Menjaga dan Memanfaatkan

Ada seorang yang memberi tidak hanya karena berlebih,
tetapi karena dia memang terlahir dengan hati memberi.
Hatinya tulus,
memberi seakan menjadi napas dalam hidupnya.
Tapi tidak pandai menghitung.

Akan tetapi,
tidak semua yang menerima melihatnya sebagai berkat.
Sebagian melihatnya sebagai peluang.
Dan ketika ketulusan dibaca sebagai peluang,
di situlah sayatan halus mulai mencari jalannya.

Kepedihan terdalam,
bukan hanya saat kebaikannya disalahgunakan,
tetapi pola yang terus berulang.
Wajah-wajah yang berbeda,
tapi janji dan rayuannya serupa.

Aku menyadari,
kadang, ketika kita sudah memberi terlalu lama,
suara hati sudah memberi tanda,
tetapi kita bersikukuh tidak ingin percaya.

Atau mungkin saja,
terselip sisi manusia yang masih mencari,
untuk diakui,
untuk dilihat murah hati,
dibuai pujian dan kata-kata manis.

Padahal, tanpa itu semua,
darahnya memang seorang penyayang dan murah hati.

Sekali lagi aku belajar:
Kasih sejati tidak pernah datang dengan harga.
Ia tidak hadir dengan label berisikan angka.
Ia lahir untuk menghidupkan, bukan untuk menunjukkan.

Mungkin,
yang perlu kita pulihkan bukan cara memberi,
tetapi tempat dari mana kita memberi.

Bukan dari takut kehilangan.
Bukan dari ingin dianggap.
Tetapi dari hati yang sudah pulang.

Ketika kasih pulang ke tempatnya semula,
ia tidak lagi mudah dibaca sebagai peluang.
Ia menjadi terang.
Dan terang selalu membelah dengan sendirinya.
Antara yang datang untuk menjaga, dan yang datang untuk memanfaatkan.

Kupikir, kita harus diam sejenak sebelum memberi.
Tidak untuk mengeraskan hati,
tapi untuk memurnikan dan menghidupkan kembali,
agar kasih bisa pulang ke rumah tempat ia berasal.

Dari hati, dan pulang ke hati,
bukan ke pujian,
bukan ke perhitungan.

Santi Konanjaya

··················