Kadang kita tertarik untuk mendengar tentang siapa diri kita.
Termasuk aku.
Manusia memang senang memberi nama,
karena dengan menamai, kita belajar mengenali.
Ketika berbagai cara memahami karakter manusia, sebut saja pengamatan dan kajian psikologi,
menyebutku sebagai seorang dengan kecenderungan introvert.
Aku tersenyum kecil, tidak menolak atau membantah, justru terasa melegakan.
Istilah atau sebutan itu seolah merangkum siapa aku,
caraku hadir,
caraku mengolah lelah,
caraku membaur dan menarik diri,
bahkan caraku “mengisi” ulang energi yang kadang nyaris menyentuh titik nol.
Menemukan sebutan atau istilah, sering kali terasa menenangkan,
seolah ada pegangan yang membuat hidup lebih bisa dimengerti.
Akan tetapi, ada saat ketika nama atau sebutan itu tidak lagi membantu,
justru mulai membatasi langkah kita menuju diri yang utuh.
Ada jarak halus antara mengenali diri dan berhenti di istilah.
Di mana pencarian yang seharusnya mengantar pulang, perlahan berubah menjadi tempat tinggal.
Aku menyadari,
mengenali kecenderunganku yang introvert, tidak bisa kupakai sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Betul, aku tahu bagaimana cara mengisi ulang energiku,
tapi aku juga tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan di wilayah kenyamanan.
Ada waktu-waktu ketika aku perlu melangkah meski tubuh ingin diam,
dan ada saat-saat ketika aku diminta berhenti,
sedangkan dunia mengajakku terus berlari.
Istilah itu membantuku memahami diriku,
tetapi tidak dimanfaatkan untuk membenarkan sikap hidupku,
apalagi menutup diri dari pertumbuhan.
Aku belajar membiarkan istilah itu tinggal di tempatnya,
sebagai penjelas, bukan penentu.
Sebagai alat bantu, bukan panduan arah.
Aku semakin mengerti,
hidup yang utuh adalah hidup yang tahu
kapan keluar, dan kapan kembali,
bukan karena teori,
tapi karena nadi yang terus berdegup.
Aku belajar memahami,
bahwa mengenali diri bukan tentang mencari pembenaran,
melainkan tentang belajar memeluk diri.
Menyerahkan pada Pusat yang menuntun ketika aku melangkah,
dan ketika aku diam.
Istilah membantuku mengenali diri,
namun pusat hidup tidak ditentukan oleh kepribadian,
tapi oleh ke mana hati ini bersandar.
Aku menerima sebutan itu apa adanya,
tanpa membiarkannya mengambil alih.
Karena hidup tidak dipanggil untuk menetap di penjelasan,
tapi untuk terus bergerak menuju pusat yang memanggilku pulang.
Santi Konanjaya