Menghadapi kehilangan memang tidak pernah mudah.
Beberapa waktu lalu, kabar itu menghampiri.
Seorang kerabat dekat berpulang secara tiba-tiba di usia yang relatif muda.
Tidak banyak kata yang datang di batinku saat itu,
tersentak dalam diam,
bersama getaran sunyi yang bergema cukup panjang.
Bukan tentang kepanikan, bukan tentang ketakutan,
tapi tentang kesadaran yang seketika menjadi sangat jernih.
Bahwa hidup manusia sesingkat itu.
Dan waktu, tidak pernah bisa dinegosiasikan.
Kita sering bicara tentang rencana,
tentang nanti,
tentang suatu hari.
Mengamankan kepastian akan hari esok
dan masa depan.
Seolah waktu adalah sesuatu yang bisa diajak kompromi,
seolah hidup selalu memberi aba-aba sebelum berubah arah.
Pada kenyataannya tidaklah demikian.
Beberapa hari kemudian, di dalam sebuah kelas.
Sesi yang membahas tentang balanced living.
Materi yang disampaikan kembali membawaku ke titik yang sama:
waktu.
Bukan tentang bagaimana mengisinya agar terlihat seimbang.
Tapi bagaimana menjalaninya dengan sadar.
Karena kehilangan waktu, pada akhirnya, adalah kehilangan hidup itu sendiri.
Mungkin hidup tidak sedang meminta kita untuk berbuat lebih banyak,
tapi untuk hadir lebih utuh.
Lebih jujur pada apa yang penting,
dan lebih berani melepaskan apa yang sekadar ramai.
Kesadaran itu perlahan memengaruhi caraku memandang waktu,
dan caraku hadir dalam setiap peristiwa.
Selagi Tuhan masih mempercayakan waktu,
selagi perjumpaan masih diizinkan berlangsung,
barangkali yang diminta dari kita bukanlah sekadar keberadaan,
melainkan kehadiran.
Hadir penuh,
tanpa menunda kasih,
tanpa menunggu suasana hati yang tepat,
tanpa menangguhkan apa yang perlu diberikan,
tanpa merasa masih ada banyak waktu nanti.
Hidup dengan kesadaran bahwa
setiap perjumpaan bisa saja adalah yang terakhir.
“LORD, remind me how brief my time on earth will be.
Remind me that my days are numbered,
how fleeting my life is.”
(Psalm 39:4, NLT)
Selagi pagi masih bisa kunikmati,
aku berharap bisa menggunakannya dengan baik,
bukan sekadar mencapai keinginan dan mimpi,
tapi memahami mengapa Tuhan menghadirkanku di sini.
Dan ketika semuanya disederhanakan,
yang benar-benar tinggal hanya dua hal:
hidup dan waktu.
Dan keduanya terlalu berharga
untuk dijalani tanpa kesadaran.
Santi Konanjaya