Menulis reflektif,
ternyata tidak hanya lahir dari hidup yang kujalani,
atau dari iman yang kuyakini.
Akhir-akhir ini aku menyadari,
ada satu hal lain yang ikut menenun caraku menulis,
begitu juga caraku melihat hidup dan manusia,
cara aku dibentuk sebagai pembaca,
dan perlahan dibentuk oleh waktu.
Aku lama hidup di antara buku-buku.
Membaca menjadi teman yang tak pernah beranjak,
bahkan ketika aku tinggalkan sejenak.
Buku yang selalu hadir,
sunyi, tenang, dan setia,
kebiasaan kecil yang diam-diam membentuk akar.
Aku mencoba menelusuri ke belakang,
ternyata bacaan-bacaan itu tidak sekadar tamat.
Mereka meninggalkan cara pandang,
cara menahan diri,
cara tidak tergesa menyimpulkan.
Dan tanpa kusadari,
kemudian menjelma di dalam caraku menulis dan memaknai hidup hari ini.
Buku-buku cerita sastra Indonesia yang kusukai, datang tanpa janji apa-apa.
Mereka tidak memintaku cepat mengerti,
tidak menawarkan epilog yang selalu rapi,
tidak tergesa menutup luka,
dan tidak memaksakan jawaban atas pertanyaan.
Di sana, manusia tidak dipoles dan disederhanakan.
Anehnya, aku justru merasa dihormati sebagai pembaca.
Emosi yang tidak dituntun untuk merasakan ini dan itu,
pikiran yang tidak diarahkan untuk sampai pada kesimpulan tertentu.
Semua dilepaskan sebagaimana adanya.
Pembaca dibebaskan menutup kisah dengan cara pandangnya sendiri.
Di antara halaman-halaman cerita itu, aku belajar,
bahwa diam adalah bagian dari kehidupan,
bahwa tidak semua hal harus segera dipahami,
bahwa sebuah kisah boleh berhenti tanpa memberi kepastian,
dan itu tidak membuatnya gagal.
Tak terasa, aku dilatih.
Bukan untuk menjadi penulis mahir,
tapi untuk menahan diri,
untuk tinggal sedikit lebih lama
di ruang yang belum selesai.
Bahasaku, memeluk suka dan luka dengan cara yang sama.
Bacaan-bacaanku menyusup ke caraku menulis,
tanpa pernah kupilih sebagai metode,
tanpa pernah kudesain sebagai gaya.
Aku yang tidak nyaman menutup makna terlalu rapat.
Aku yang cenderung menahan diri untuk tidak menggurui,
tidak membujuk emosi orang lain untuk menjadi seperti yang kuingini,
tidak terlalu mudah memamerkan posisi batin.
Aku tidak menolak sebuah rangkuman atau kejelasan,
aku hanya belajar menghormati proses yang belum selesai.
Cerita-cerita sastra Indonesia mengajariku,
bahwa manusia tidak perlu dirapikan agar layak dituliskan.
Bahwa luka tidak harus selalu diberi akhir yang manis.
Bahwa keheningan bukan kekosongan,
tetapi ruang bernapas bagi makna.
Hari ini, aku berhenti bertanya tentang bentuk tulisan.
Apakah ini refleksi, sastra, atau sekadar catatan batin.
Pertanyaan itu sudah tidak penting lagi.
Aku tidak sedang memilih genre.
Aku sedang memilih pulang.
Menulis reflektif terasa seperti rumah,
karena di sanalah pengalaman hidupku,
kedalaman imanku,
dan cara pandang yang dibentuk oleh buku-buku
bertemu,
tanpa harus saling meniadakan,
tanpa perlu saling menyesuaikan.
Arahku menulis tidak berubah,
hanya menemukan akar
yang sejak lama tumbuh perlahan
tanpa pernah kuberi nama.
Ketika aku mengambil satu bacaan lama dari rak buku,
aku menyadari:
aku tidak sedang memulai sesuatu yang baru,
aku sedang menjahit kembali
benang yang sejak awal sudah ada.
Barangkali itulah sebabnya
buku-buku itu menetap lebih lama,
meski dengan cerita yang biasa.
Mereka bicara dari lapisan yang sama dengan tempat aku menulis hari ini.
Hal-hal kecil yang dulu kuanggap lumrah,
kebiasaan membaca,
cara menikmati cerita,
ketertarikan pada keheningan,
ternyata adalah potongan-potongan puzzle
yang perlahan membentuk diriku.
Tulisan ini tidak untuk membawa siapa pun ke tempatku.
Tulisan ini hanya berdiri sebagai cermin,
barangkali kamu pun sedang belajar mengenali,
bahwa hidup,
bahkan di bagian yang tampak remeh dan sepele,
sering kali sedang membentuk kita lebih dalam dari yang kita sadari.
Barangkali memang cukup seperti nyala kecil.
Hadir tanpa memanggil,
menerangi tanpa menuntut dilihat.
Santi Konanjaya