Aroma, Arah yang Mengantarku Pulang

Mana yang lebih diinginkan untuk menemani harimu?
Udara dingin, angin yang kadang tidak bisa mengendalikan dirinya,
langit mendung yang berwarna satu: abu-abu.

Atau udara yang membawa kehangatan,
sinar yang singgah di wajah merona,
langit biru ceria dengan matahari yang menyapa?

Aku menyukai udara dingin dan bersih.
Seakan aku bisa menarik napas panjang tanpa berpikir.
Tanpa harus menjelaskan apa pun pada tubuhku sendiri.

Dari sana aku belajar mengenali keseharianku.

Sama seperti caraku memilih aroma,
lilin aromaterapi atau parfum.

Aku tidak menyukai aroma yang manis, yang ramai, yang terasa ingin disukai.
Tubuhku seperti menolak untuk tinggal terlalu lama di sana.
Ada sesuatu yang terasa dibuat-buat,
seolah ingin memanggil perhatian.

Aku baru sadar, mungkin ini bukan sekadar soal aroma.

Ada cara tertentu yang membuatku merasa pulang.
Ada suasana yang tidak perlu bicara banyak,
tidak meminta aku menjadi apa-apa.
Ia hanya ada, dan kehadirannya cukup memberikan tenang.

Aku menyukai hal-hal yang membumi.
Tidak berisik,
tidak memaksa,
tidak menuntut kekaguman.
Yang mampu membiarkan diriku bernapas dalam, tanpa harus bersiap menerjang kebisingan.

Mungkin, jiwaku pun bekerja dengan cara yang sama.
Ia tidak tahan pada keramaian yang berlebihan,
pada sesuatu yang terlalu ingin tampil dan terlihat.
Ia lebih memilih ruang yang jujur,
yang tidak sibuk membuktikan diri.

Semakin lama,
aku semakin memperhatikan hal-hal kecil itu.
Aroma, udara, suasana.
Bukan untuk menilai, tapi untuk mengenali:
di mana tubuhku tenang, dan ke mana ia ingin pergi.

Aku mulai mengerti,
bahwa caraku menyukai sesuatu
adalah cermin dari caraku hidup.


Aku tidak sedang mencari yang indah.
Aku hanya sedang mencari yang jujur.

Santi Konanjaya

··················