Banyak orang takut akan sepi,
Sepi dipandang sebagai ruang yang dingin dan menusuk.
Sepi sering disalahpahami sebagai kesepian.
Ia dicurigai sebagai tanda ada yang kurang,
ruang yang harus segera diisi.
Padahal, tidak semua sepi tanda kehilangan sesuatu,
tidak semua sepi mengeluarkan suara yang sama.
Seperti, tidak semua yang ramai itu hidup.
Ada kalanya sepi justru membuat seseorang kembali,
membuat seseorang hadir penuh untuk mendengar dirinya sendiri.
Bagi sebagian orang,
sepi terasa mengancam karena ia memaksa jeda.
Di sana, tidak ada distraksi yang bisa dipakai untuk bersembunyi.
Yang tersisa hanyalah diri sendiri… apa adanya.
Mungkin, bukan sepinya yang menakutkan,
tapi keberanian untuk tinggal,
dan mendengarkan apa yang selama ini terabaikan di dalam diri.
“Apakah aku benar-benar takut akan sepi,
atau takut mendengar diriku sendiri?”
Aku tidak menolak keramaian,
aku hadir di tengah keriuhan,
tanpa perlu menetap di sana.
Seperti halnya alam yang tidak simetris, tapi harmonis.
Laut lebih luas dari daratan.
Malam lebih panjang dari fajar.
Hening lebih sering hadir daripada suara.
Tapi semuanya tetap utuh.
Karena sepi tidak pernah memaksa jawaban.
Ia hanya menyediakan ruang.
Sepi bukan lagi ruang yang harus dihindari.
Ia datang bukan karena hidupku kekurangan orang,
atau karena aku tidak mampu hadir di tengah keramaian.
Bagiku, sepi hadir sebagai pilihan,
ruang yang kupelihara agar aku tidak kehilangan diriku sendiri.
Di dalam sepi, aku tidak merasa sendirian.
Tidak ada dorongan untuk mengisi,
tidak ada keharusan untuk membuktikan apa-apa.
Yang ada hanyalah keberadaan,
sebuah kelegaan karena tidak perlu menjadi siapa-siapa, selain diri sendiri.
Sepi tidak memintaku jauh dari hidup,
ia hanya memberiku ruang jujur
untuk mengenali diri,
dan kembali kepada Sang Pemilik.
Di sana,
diriku tidak lagi perlu dibuktikan.
Santi Konanjaya