Ada masa ketika aku merasa hidup perlu ditampilkan
agar terasa benar-benar terjadi.
Jika mau jujur menjawab alasannya,
karena diam-diam ada rasa takut:
Jika tidak diperlihatkan,
hidup menjadi tidak cukup berarti.
Perjalanan yang tidak diunggah,
akan lebih mudah dilupakan,
momen yang tidak disaksikan
terasa kurang nyata.
Aku mulai membingkainya,
bukan untuk mengingat,
tapi untuk memastikan:
Bahwa hidupku berjalan,
aku mengikuti zaman,
aku tetap bergerak,
dan aku masih ada.
Karena, ketika melihat hidup orang lain dalam bingkai layar,
aku merasa tertinggal.
Hidupku terasa tidak tampak.
Tidak seindah,
tidak seramai,
tidak sebahagia mereka.
Tanpa sadar,
yang kuatur bukan lagi arah hidup,
tapi cara hidup itu ingin dikenali.
Ketika unggahan sepi,
yang terusik bukan aplikasi,
bukan algoritma,
melainkan diriku sendiri.
Hidup mulai diukur dari respons.
Like menjadi penegasan.
View menjadi cermin.
Komentar menjadi bukti.
Perlahan, sebuah tanya hadir:
Apa yang terjadi pada diriku
jika hidup ini tidak disaksikan?
Dan menjadi lebih dalam lagi:
Siapa aku
ketika tidak dilihat siapa-siapa?
Apakah hidupku tetap penuh?
Apakah hidupku tetap bermakna?
Apakah aku tetap utuh?
Hidup pun bergerak dengan dua kesadaran:
Menjalaninya,
dan mengatur bagaimana hidup itu ingin dilihat.
Perlahan,
aku mulai melihat sesuatu:
Tidak semua hal perlu ditampilkan.
Ada bagian dari hidup
yang hanya ingin dihuni,
bukan ditayangkan.
Ada percakapan
yang cukup tinggal di meja makan.
Ada perjalanan
yang cukup dikenang oleh tubuh.
Ada sukacita
yang tidak perlu dibuktikan melalui sorotan.
Aku mulai memahami,
ada banyak hal yang justru bertumbuh lebih utuh
ketika tidak disorot.
Ada keheningan
yang hanya bisa dijaga,
bukan disiarkan.
Ada makna
yang lebih mudah tinggal ketika ia tidak diukur dari respons sebuah layar.
Sejak itu,
hidup tidak lagi terasa harus selalu dijelaskan.
Tidak setiap langkah perlu diberi keterangan.
Tidak setiap perjumpaan perlu dibagikan.
Tidak setiap sukacita perlu ditampilkan.
Sama seperti tidak semua luka perlu diumumkan.
Ada ruang-ruang yang kupilih,
hanya untuk ditinggali.
Tanpa panggung.
Tanpa pengumuman.
Tanpa saksi.
Dan, hidup tetap berjalan.
Tidak berkurang.
Tidak tertinggal.
Tidak kehilangan arti.
Pada akhirnya,
tidak semua hidup
perlu ditampilkan
untuk menjadi sah.
Santi Konanjaya