Sebuah perjalanan yang dimulai tanpa kata,
adalah perjalanan seorang ibu,
di mana pada satu masa, menggenggam tangan kecil belajar mengenal dunia.
Hari-hari dijalani dalam kesetiaan yang sunyi,
memegang peran lebih dari yang ia bayangkan:
menggendong harapan,
menjaga janji yang tak pernah diucapkan dengan lantang,
namun terus hidup di dalam batinnya.
Waktu berjalan.
Anak yang dulu digenggam, perlahan berdiri, beranjak,
dan menemukan hidupnya sendiri.
Hingga suatu hari,
ibu berdiri di sebuah momen yang tak pernah benar-benar bisa dipersiapkan.
Bukan lagi untuk menggenggam,
tapi untuk menyerahkan.
Anak yang dulu ia tuntun langkah demi langkah,
kini berdiri di hadapan,
bersiap melangkah menuju masa depan,
bersama seseorang yang Tuhan hadirkan,
untuk menemaninya dalam doa dan harapan.
Tidak banyak kata tersisa,
ibu sedang melakukan hal paling sunyi dalam hidupnya:
melepas dengan cinta yang tetap bulat.
Melepas memang tidak pernah mudah.
Belakangan ini, percakapan di telepon dipenuhi euforia.
Hidup anak-anak terasa bergerak cepat,
melangkah, memilih, memulai fase baru.
Aku ikut bersukacita. Sungguh.
Namun di momen-momen itu, aku juga merasakan sesuatu yang lain.
Ada peran yang tidak lagi berdiri di tempat yang sama.
Sepi datang tanpa diminta.
Perlahan aku memahami,
bahwa ada bagian dari hidup yang terus mengalir,
ada peran yang diam-diam beralih.
Yang dulu dipanggil, kini lebih sering dipercaya.
Yang dulu diminta hadir, kini cukup diberi kabar.
Yang dulu turut melangkah, kini menjadi penopang dari kejauhan.
Cinta seorang ibu menemukan bentuk yang baru.
Seperti kursi yang tak lagi diduduki.
Ada kejujuran batin yang tidak aku bantah:
Merindukan bagaimana dulu aku dibutuhkan.
Cinta ini tidak pernah kehilangan kekuatannya.
Ia tidak berkurang luasnya.
Hanya ada hal baru yang Tuhan sedang ajarkan.
Ia tetap ada,
namun berdiri di tempat yang berbeda.
Tidak lagi di tengah,
melainkan di tepi,
menyertai tanpa perlu selalu terlihat.
Cinta yang tidak lagi diukur dari kedekatan,
melainkan dari kesediaan untuk tetap ada,
meski tak lagi banyak diminta.
Melepas bukan tentang berhenti mencintai.
Ia adalah cara cinta menemukan wajahnya yang lebih dewasa.
Ada waktunya tangan harus terlepas agar anak belajar berdiri.
Ada waktunya diam agar suara-Nya terdengar lebih jernih.
Cinta mencapai bentuk kemurniannya:
cinta yang tidak menuntut untuk dimengerti,
tidak menagih untuk dikembalikan,
hanya memberi dan selalu hadir.
Dalam diam yang percaya,
cinta akhirnya belajar menjadi utuh.
cinta seorang ibu,
tetap tinggal,
tetap pulang,
meski di ruang yang berbeda.
Santi Konanjaya