“Setiap karya akan menemukan rumahnya.”
Seperti pembaca pun akan menjumpai kisah yang menawan hatinya,
yang membuatnya enggan berhenti sebelum kata tamat menutup cerita.
Tapi kali ini,
aku tidak bisa mengatakan hatiku tertawan.
Kali ini,
hatiku luruh..
dalam sunyi yang dalam,
dalam kepiluan yang tidak bisa lagi dialihkan,
saat aku menemani perjalanan Alice menuju kehilangan.
Semakin jauh aku menelusuri halaman demi halaman,
semakin pelan aku membaca.
Seperti seorang anak yang baru belajar mengeja,
terbata-bata,
terhenti di antara kata,
terdiam lebih lama.
Ada getaran yang terus menyusup makin dalam.
Kali ini aku berharap,
cerita ini berhenti sebelum benar-benar tamat.
Ada cuplikan-cuplikan kecil yang tidak pernah benar-benar bisa kutinggalkan.
Hal-hal sederhana yang perlahan kehilangan maknanya.
Seorang perempuan yang berlari pagi seperti biasanya…
tiba-tiba tidak lagi tahu ke mana jalan pulang.
Atau ketika ia berdiri di sebuah dapur,
menyiapkan sesuatu dengan gerakan yang terasa akrab,
sampai ia menyadari ketika seseorang menepuk bahunya,
ia berada di dapur tetangganya.
Atau di satu hari,
ia panik mencari sebuah pintu di dalam rumahnya sendiri,
ia berlari naik, menelusuri selasar,
bergegas turun, menyusuri setiap sudut ruang,
mencari di mana pintu itu… pintu toilet.
Dadanya bergemuruh kencang,
air mata deras mengaliri wajahnya,
ruang yang selama ini menjadi tempat pulang,
tidak lagi memberinya arah.
Bahkan sesuatu yang begitu biasa,
seperti karpet bulat berwarna hitam yang bertahun-tahun terhampar di depan pintu rumahnya,
kini berubah menjadi lubang gelap yang menakutkan di matanya.
Dunia perlahan retak di pikiran dan batinnya,
tanpa suara, tanpa kata.
Waktu berjalan,
kehilangan demi kehilangan pun semakin panjang.
Satu per satu terlepas,
perlahan…
tanpa bisa ditahan.
Dan mungkin yang paling pilu,
adalah ketika Alice masih cukup sadar untuk menyadari
bahwa perlahan ia sedang menjauh dari dirinya sendiri.
Meski kenyataannya,
Alice tidak benar-benar sendiri.
Ada orang-orang di sekelilingnya,
ada suami dan anak-anak yang dikasihi dan mengasihinya.
Namun perlahan,
dunia yang sama tidak lagi mereka huni bersama.
Nama-nama yang dulu begitu dekat dan mesra,
kini terasa asing dan jauh.
Ia mulai tidak mengenali siapa mereka.
Wajah yang dicintainya berpuluh tahun,
tiba-tiba menjadi seorang laki-laki asing
yang tidak ia pahami mengapa selalu ada di dekatnya.
Wajah-wajah yang dilahirkannya ke dunia,
tidak lagi tinggal di tempat yang akrab di dalam ingatannya.
Kesepian tidak datang karena kehilangan orang-orang…
tapi karena Alice mulai kehilangan dirinya,
dan perlahan.. kehilangan cara untuk menjangkau mereka.
Ia berada di tengah sekelompok orang asing.
Ada sesuatu yang diam-diam mengetuk di dalam diriku.
Bukan tentang apa yang ia alami,
tapi tentang apa yang mungkin…
suatu hari bisa terjadi pada siapa saja.
Termasuk aku.
Diam-diam aku bertanya,
jika suatu hari semua yang kukenali tentang diri terlepas,
apa yang masih tinggal di dalam diriku?
Selama ini, mungkin aku mengenal diriku
dari apa yang bisa kuingat,
dari apa yang bisa kulakukan,
dari nama, peran, dan hal-hal yang melekat padaku.
Namun perlahan aku menyadari…
betapa rapuhnya semua itu.
Bahwa sesuatu yang selama ini terasa begitu pasti,
bisa saja…
tidak lagi tinggal.
Dan di titik itu,
aku melihat dengan lebih utuh.
Hal-hal kecil yang sederhana…
satu percakapan,
satu momen sadar,
satu hari yang dijalani dengan penuh..
tidak lagi terasa biasa.
Dan mungkin,
hidup bukan tentang menggenggam erat-erat,
tapi tentang sungguh hadir,
sebelum semuanya perlahan pergi.
Karena ada hal-hal yang… cepat atau lambat,
akan terlepas dari kendali kita.
Ingatan,
kemampuan,
bahkan cara kita mengenali diri sendiri.
Dari kisah Alice,
aku kembali diingatkan arti melepas.
Bahwa pada akhirnya,
tidak ada apa pun di dunia ini
yang benar-benar bisa bertahan selamanya.
Ketika suatu hari
tidak ada lagi yang bisa kuingat tentang diriku,
tidak ada lagi yang bisa kupegang sebagai “siapa aku”…
yang masih meninggalkan jejak adalah…
aku dikenal sepenuhnya oleh-Nya,
aku tidak pernah hilang dari ingatan-Nya.
Dan itu...
untukku,
sudah lebih dari cukup.
Santi Konanjaya