Melampaui Persepsi

Seberapa sering kita disalahpahami?
Seberapa sering kita menjaga agar itu tidak terjadi?

Tapi tetap saja,
kendali atas reaksi dan respon orang lain,
bukanlah dalam genggaman kita.

Kadang yang melelahkan bukan kesalahpahaman itu,
tapi dorongan di dalam diri untuk segera meluruskannya.
Seolah-olah, jika orang lain salah melihat kita,
ada sesuatu dalam diri kita yang ikut berkurang.

Meski sebenarnya,
tidak semua hal perlu segera dikoreksi dan diperbaiki.
Meskipun itu dugaan, sangkaan, dan persepsi

Tidak semua asumsi perlu dibantah.
Tidak semua pandangan perlu diluruskan.

Dan tidak semua kesimpulan orang
memiliki kuasa untuk menentukan siapa diri kita.

Siapa kita di hadapan Tuhan
tidak dibentuk oleh persepsi orang,
tidak dipahat oleh kesalahpahaman,
tidak runtuh oleh anggapan.

Identitas yang Tuhan berikan,
tidak untuk dinegosiasikan.


Ia sudah melihat
sebelum orang menilai.
Ia sudah mengenal
sebelum dunia menamai.

Tidak ada satu pun asumsi manusia
yang sanggup membatalkan
siapa diri kita di hadapan-Nya.

“Bagiku sedikit sekali artinya… aku dihakimi oleh kamu
atau oleh suatu pengadilan manusia…
Tuhanlah yang menghakimi aku.”
1 Korintus 4:3–4


Mungkin akan selalu ada salah paham.
Mungkin akan selalu ada penilaian,
bahkan tanpa pernah benar-benar mengenal.

Namun hidup tidak harus dijalani
dari kebutuhan untuk dimengerti.


Ada ketenangan yang hadir
ketika kita berhenti hidup dari klarifikasi.
Dan mulai tinggal
di dalam kebenaran yang sudah dinyatakan
oleh Dia yang lebih dulu mengenal kita.

Santi Konanjaya

··················