Aku Pernah Mengira Ini Kasih

Dulu aku mengira kebaikan adalah selalu berkata “ya”.

Ya untuk hadir.
Ya untuk mengikuti.
Ya untuk memberi.

Ketika hatiku berkata tidak,
aku menunda,
aku mengabaikannya,
aku tidak ingin mengecewakan siapa-siapa.

Ada semacam tanggung jawab,
seakan-akan suasana hati orang lain
adalah sesuatu yang harus kujaga.
Seolah-olah jika seseorang pergi dengan kecewa,
itu artinya aku gagal jadi manusia yang baik.

Aku menjadi selalu siap sedia.
Mengiyakan, bahkan sebelum mempertimbangkan.

Aku hadir.
Aku membantu.
Aku memberi.
Aku bisa diandalkan.

Tapi diam-diam,
ada bagian dalam diriku
yang mulai lelah tanpa tahu bagaimana beristirahat.

Bukan sebab terlalu banyak memberi,
tapi karena terlalu sering memberi dari tempat yang tidak seiring dengan suara hati.

Aku memegang kepercayaan,
bahwa berkata tidak adalah bentuk penolakan,
bahwa menetapkan batas adalah tindakan egois.

Setiap kali datang kesempatan untuk menolak,
rasa bersalah selalu muncul lebih dulu.
Hingga pada akhirnya kembali kepada kata ”ya sudahlah.”

Satu yang paling sulit kuakui,
ternyata mungkin,
aku tidak sedang menolong,
aku sedang berusaha untuk dinilai baik.

Bertahan dari kemungkinan dianggap tidak peduli.
Bertahan dari label mengecewakan.
Bertahan dari rasa takut bahwa penolakan akan melukai relasi yang ingin kujaga.

Aku mengiyakan banyak hal
yang mungkin tidak pernah Tuhan minta dariku.

Aku hadir di tempat-tempat
yang tidak pernah menjadi bagianku.
Mengambil beban
yang tidak jatuh di pundakku.

Dan menyebut semua itu sebagai kasih.

Padahal, di dalam diam,
hatiku mulai terpecah.

Ada bagian yang melelahkan.
Ada bagian yang ingin jeda dan berhenti.
Ada bagian yang ingin berkata,
“cukup”.

Tapi suara-suara itu
selalu kalah cepat
oleh satu bisikan yang lain:

Nanti mereka kecewa.
Nanti aku dianggap tidak baik.
Nanti aku dipandang tidak peduli.

Dan aku kembali berkata ya.

Sampai satu momen,
aku mulai menyadari,
bahwa batinku seringkali lebih dulu berkata jujur daripada bibirku.

Ada lelah
yang datang bahkan sebelum hari dimulai.
Ada sesak
yang muncul setiap kali pesan masuk.

Aku mulai bertanya,

Apakah semua ini benar-benar kasih,
atau hanya kekhawatiran yang menyamar menjadi kebaikan?


Dan aku menemukan sesuatu yang selama ini terlewatkan.

Tuhan tidak selalu menyenangkan hatiku.
Ia mengasihi,
tapi tidak selalu memenuhi apa yang aku ingini.
Ia peduli,
tapi tidak selalu mengatakan “ya” pada apa yang aku mau.

Ada banyak orang yang datang dengan kebutuhan,
dan Tuhan tidak menjawab semuanya
dengan ketersediaan yang sama.

Ada saat-saat,
Tuhan diam tanpa jawaban.
Ia sangat paham,
apa yang kuinginkan bukan yang baik di penghujung jalan.

Aku melihat,
bahwa kasih tidak selalu berbentuk “nggak enakan”.
Bahwa mengatakan tidak, bukanlah penolakan,
kadang itu adalah penjagaan atas kemurnian motivasi.

Aku mulai belajar,
bahwa berkata tidak
bukan berarti berhenti mengasihi.

Bahwa menetapkan batas,
bukan berarti membangun tembok.

Kadang, justru di situlah
kasih menemukan bentuknya yang paling jujur.

Karena aku tidak lagi memberi
dari tempat yang kosong,
dari tempat yang diam-diam membawa agenda diri.

Tidak lagi hadir
dengan hati yang tercerai.

Tidak lagi mengiyakan
demi menghindari rasa bersalah.

Aku mulai berani mengakui:
aku manusia terbatas.

Aku punya kapasitas,
punya ritme,
punya panggilan,
yang tidak selalu sama dengan harapan orang lain.

Dan Tuhan tidak pernah memintaku melebihi itu.

Ia tidak meminta
agar aku tersedia bagi semua orang.
Ia hanya mengundangku untuk setia,
pada apa yang benar-benar Ia percayakan.

Mungkin tidak semua orang akan mengerti.
Mungkin akan ada yang kecewa oleh penolakanku.

Tapi aku percaya semua akan baik-baik saja.

Karena damai
tidak lahir dari hidup yang selalu disetujui,
tapi dari hidup yang tidak lagi terpecah
antara apa yang kuhidupi
dan apa yang kuharap orang lain lihat dariku.

Aku masih perlu terus belajar.

Belajar bahwa berkata tidak
kadang adalah bentuk kejujuran.
Bahwa beristirahat
kadang adalah caraku menjaga.

Dan bahwa kasih sejati
tidak selalu berkata ya.

Santi Konanjaya

··················