Haus yang Sama

Terkadang, tanpa kusadari
banyak keputusan dalam hidupku
ternyata datang dari keinginan
untuk merasa cukup di mata orang lain.

Cukup untuk diterima.
Cukup untuk dianggap.
Cukup untuk merasa bahwa diriku layak dipandang.

Dilakukan supaya dilihat.
Dipertahankan supaya tetap dianggap baik.
Hidup bergerak ke arah yang melelahkan.

Menjadi seseorang yang selalu ingin “terlihat”
membuat batin sangat sibuk.

Sibuk menjaga kesan.
Sibuk takut mengecewakan.
Sibuk memastikan diri tetap punya tempat.

Semakin jauh berjalan,
aku mulai menyadari:
Tepuk tangan manusia
tidak pernah benar-benar bisa memuaskan batin, menenangkan hati.

Ia hanya memberi rasa penuh sesaat,
lalu meninggalkan haus yang sama.

Dan mungkin…
itulah kenapa ada jiwa-jiwa yang terlihat begitu penuh di luar,
seringkali menyimpan banyak lelah di dalam.

Tuhan menunjukkan sesuatu,

bahwa damai tidak lahir
dari seberapa banyak aku diterima manusia,
tapi ketika aku berhenti menyerahkan nilai diri kepada penilaian mereka.

Ada kebebasan yang tumbuh ketika aku merenungkannya dalam.

Tidak lagi terlalu sibuk dilihat.
Tidak lagi terlalu takut disalahpahami.
Tidak lagi terlalu haus untuk dianggap baik.

Karena di hadapan Tuhan,
aku tidak perlu menjadi siapa-siapa
untuk menjadi layak dan berharga.

Santi Konanjaya

··················