Apa yang kau bayangkan tentang musim dingin?
Udara yang menggigilkan tubuh menusuk tulang
Langit yang lebih sering diwarnai abu-abu daripada biru
Dedaunan menguning, mengering dan tanggal dari dahannya.
Teringat musim dingin yang kadang juga tiba di rumah singgah kami.
Rumah singgah di mana anak-anak sedang berjalan bersama penyakitnya.
Ada hari-hari yang dipenuhi hangat,
ada hari-hari yang terasa lebih dingin, lebih senyap.
Waktu itu jatuh di hari yang tenang.
Tidak tampak keceriaan yang biasa menghiasi setiap sudut rumah,
Tidak ada tawa dan canda.
Seperti musim dingin,
semuanya bergerak lebih pelan.
Musim memang silih berganti,
ada masa bunga mekar berwarna warni,
hangat menembus ruang hati.
Ada kala daun menjadi kering dan berguguran,
Udara menjadi dingin dan segala sesuatu terasa enggan bergerak.
Inilah bagian dari kehidupan di rumah singgah.
Tidak ada jarak yang diciptakan,
hanya sinar yang biasanya menyemarakkan ruang,
sedang memilih redup dan diam.
Di dalam warna abu-abu itu,
aku diajak menyesuaikan langkah.
Tidak ada yang perlu diperbaiki.
Tidak ada yang harus dipaksakan “menjadi”.
Aku belajar tinggal,
tanpa menuntut senyuman,
tanpa meminta keceriaan datang segera.
Aku hadir,
dan membiarkan keheningan bekerja dengan caranya sendiri.
Musim dingin,
ia tidak mematikan kehidupan,
hanya menyimpannya lebih dalam.
Ada yang sedang beristirahat.
Ada yang sedang bertahan.
Dan ada yang hanya perlu ditemani
tanpa kata-kata.
Musim dingin
juga datang dalam diri setiap manusia.
Ada masa hati hangat dan terang,
dan ada masa ketika segalanya melambat dan senyap,
kita hanya perlu setia untuk tinggal,
meski kehangatan tidak kembali seperti yang kita harapkan.
Musim akan silih berganti.
Mungkin,
yang perlu kita renungkan,
bukan cara mempercepatnya
tapi cara tinggal di dalamnya,
cara setia menjalani
tanpa terburu-buru ingin melewati.
Karena satu musim
tak pernah tinggal selamanya.
Santi Konanjaya