Pernah menonton The Crown?
Serial enam musim ini mengisahkan kehidupan kerajaan Inggris, sebuah narasi yang rasanya sudah akrab di telinga banyak orang.
Skandal, upacara kenegaraan, pergantian takhta.
Kita sudah tahu kisah-kisahnya dari berita maupun sejarah.
Tapi The Crown mengemasnya dengan lebih halus, dalam balutan drama, menyorot sisi-sisi yang sering terlewat: batin manusia di balik lambang megah sebuah kerajaan.
Aku menontonnya lebih dari sekali.
Bukan karena aku memang suka mengulang film, tapi kali ini, aku merasa seperti sedang mengejar sesuatu. Seolah ada suara yang ingin kudengar lebih jelas.
Dan aku tahu, itu bukan dari dialog atau musik latar.
Itu datang dari tempat yang lebih dalam:
mata batin.
Seperti ketika aku menulis tentang The Alchemist beberapa waktu lalu, tulisan ini bukan ulasan film.
Ini hanyalah caraku mencatat apa yang kutangkap saat menonton ulang, episode demi episode.
Sampai akhirnya, aku menyadari sesuatu.
Bukan soal politik, bukan soal kerajaan, bahkan bukan tentang skandal.
Tapi tentang kesunyian yang tak pernah benar-benar diucapkan,
tentang pengosongan diri seorang perempuan demi panggilan yang tak bisa ia tolak.
1. Tanggalkan Identitas Lama: Demi Sebuah Panggilan
Satu peran yang, ketika kita memilihnya, akan menuntut kita menanggalkan versi diri kita sebelumnya.
Bukan karena kita membencinya, bukan pula karena salah.
Tapi karena hidup yang baru tidak lagi selaras dengan yang lama.
Itulah yang aku lihat dalam sosok Elizabeth Windsor.
Seorang perempuan muda, seorang istri, seorang ibu, sedang menikmati kehidupan yang indah bersama suami dan anaknya, di sebuah tempat yang tenang, jauh dari kebisingan kota.
Tiba-tiba, saat takhta memanggilnya, ia harus menguburkan sosok “Elizabeth Windsor” dan menjelma menjadi “Ratu Elizabeth II”.
Aku bisa membayangkan resah, gelisah, dan kebingungan yang memenuhi hatinya.
Ya, dia memang dipersiapkan untuk momen ini. Tapi aku percaya, bahkan persiapan terbaik pun tidak pernah cukup saat waktu itu benar-benar tiba.
Karena ada hal-hal yang tak bisa dipelajari dari buku dan sekolah: rasa kehilangan akan hidup yang lama.
Bayangkan saja, harus melepaskan begitu banyak hak sebagai manusia.
Hak untuk berekspresi.
Hak untuk terlihat lelah.
Hak untuk jujur bahwa hatimu hancur.
Hak untuk menangis dan tampak rapuh.
Semua itu, sekarang harus disaring.
Ditampilkan secukupnya. Seperlunya.
Atau malah, sedatar mungkin.
Itu yang kutangkap dari balik segala kemegahan seorang ratu.
Dalam salah satu adegan, Elizabeth menerima surat dari neneknya, Ratu Mary, Isinya:
“To do nothing, say nothing, be nothing… is the hardest thing in the world. But it is also the most noble.”
Di satu sisi, kalimat itu terdengar dingin dan kaku.
Tapi di sisi lain, aku menangkap makna terdalamnya:
ada tugas yang lebih besar dari sekadar perasaan pribadi.
Ada panggilan yang tidak bisa ditawar oleh emosi.
Dan bukankah ini juga yang terjadi ketika seseorang memilih untuk mengikuti Kristus?
Ada masa di mana kita harus merelakan versi lama dari diri kita.
Bukan karena tidak menginginkan lagi diri kita yang dulu,
tetapi karena kita memilih hidup yang baru,
sesuatu yang lebih besar dan lebih bernilai.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
(Galatia 2:20)
Maka, jika panggilan itu menuntutku untuk kehilangan banyak,
biarlah aku pun belajar menanggalkan semua yang dulu kusebut “aku”.
2. Kemegahan Yang Sunyi
Istana dengan semua kemegahan yang terlihat terang dari luar, ternyata juga membawa jalan-jalan sepi.
Mungkin ini hanya film yang didramatisasi.
Sayangnya, aku justru merasa itulah kenyataannya.
Tentang kesepian seorang ratu di balik kemewahan istana,
bahkan ketika hidup “di antara banyak orang”, ia tetap merasa sendiri.
Ada bentuk kesunyian yang tidak bisa dihindari dalam sebuah pengabdian.
Tapi justru di situ suara Tuhan paling jernih terdengar.
“Sepi bukan tanda kehampaan, tapi bisa jadi panggilan untuk masuk lebih dalam.”
Sebagai seorang ratu, Elizabeth harus menjalani hidupnya dalam sorotan dunia.
Tapi yang aku lihat justru bukan gemerlap, melainkan sunyi.
Sunyi yang dalam.
Ia berada di dalam istana, namun terasa berjarak, dengan suami, dengan anak-anak, bahkan dengan dirinya sendiri.
Dari luar, ia tampak kuat dan berwibawa.
Tapi di balik jendela istana, aku bisa merasakan ruang batin yang sepi, tempat di mana seorang wanita kehilangan hak untuk menunjukkan sisi kewanitaannya.
Ia tidak boleh goyah, tidak boleh bimbang, apalagi terlihat gelisah.
Semua sudah tertulis dalam sistem kerajaan:
ekspresi adalah ancaman bagi wibawa.
“To never complain, never explain.”
(Semboyan yang sering dikaitkan dengan keluarga kerajaan.)
Aku terdiam:
Apakah kita juga pernah ada di sana?
Di satu titik ketika kita merasa harus tetap berdiri
meski hati remuk.
Ketika dunia mengira kita baik-baik saja, padahal tengah terluka di dalam.
Sebagai pengikut Kristus, kita memang tidak dipanggil untuk mengenakan mahkota dunia.
Tapi kita dipanggil untuk kehidupan yang tidak kalah mulia:
Hidup dalam standar yang lebih tinggi dari sekadar standar diri sendiri.
Ada kalanya kita perlu memilih diam, bukan karena kalah, tapi karena tunduk.
Ada kalanya kita harus sendiri, bukan karena tidak punya siapa-siapa, tapi karena Tuhan ingin membawa kita ke ruang rahasia yang hanya tersisa kita dan Dia.
Mazmur 46:11
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.”
Elizabeth menghidupi pengabdian dalam diam.
Begitu juga seharusnya kita, menghidupi iman bukan dalam sorotan, tetapi dalam kesetiaan yang tersembunyi.
3. Tidak Bisa Kembali Seperti Dulu
“There is no possibility of my stepping back… it is simply not how things are done.”
Queen Elizabeth II, The Crown
Di beberapa bagian awal The Crown, aku melihatnya dengan sangat jelas:
Elizabeth Windsor tidak bisa kembali menjadi dirinya yang dulu.
Keputusan telah diambil. Panggilan telah dijalani.
Sejak saat itu, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
Dan bukankah begitu juga yang terjadi ketika kita merespons panggilan Tuhan?
Kadang aku sendiri bertanya:
Bisakah aku kembali seperti dulu?
‘Bebas’ mengambil keputusan tanpa merasa perlu “bertanya dan bicara”?
Segera mengiyakan tawaran dan kesempatan tanpa harus berkata, ‘beri aku waktu untuk mempertimbangkannya.’
Tapi setiap kali aku menoleh ke belakang, aku tahu jawabannya: tidak bisa.
Bukan karena aku kehilangan diriku.
Justru karena aku menemukan diriku yang utuh, yang dibentuk oleh panggilan yang lebih tinggi.
“Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
— Lukas 9:23
Ini bukan tentang perubahan sekilas.
Tapi tentang transformasi.
Dan saat Tuhan yang mengganti, kita tidak akan pernah sama lagi.
4. The Crown Must Be the One That Wins
Sebuah kalimat di sana yang begitu membekas dalam benakku:
“The crown must always win.”
Kalimat itu muncul dalam salah satu percakapan paling sunyi, namun paling tajam.
Dan sejak saat itu, aku melihat diam sang Ratu dengan cara yang berbeda.
Ia seringkali hanya mendengarkan.
Tidak membela diri. tidak menanggapi dengan emosi.
Bahkan ketika diserang, dikritik, atau disalahpahami.
Bukan karena ia tidak punya suara.
Tapi karena ia tahu:
mahkota harus lebih tinggi dari perasaannya.
Aku merenung,
ini bukan sekadar tentang kerajaan.
Tapi tentang menghidupi sebuah panggilan.
Kadang, ketika sudah menanggalkan manusia lama demi sesuatu yang lebih besar, kita tidak lagi bisa membalas semua hal dengan spontanitas manusiawi.
Ada suara yang harus diredam.
Ada reaksi yang harus ditahan.
Bukan demi pencitraan, tapi demi panggilan yang dipercayakan.
Ini tertulis jelas dalam Yohanes 14:15
Diam sang Ratu bukan pasrah, tapi tunduk.
Dan dalam tunduk itulah, mahkota tetap berdiri.
Karena kadang, kemenangan sejati bukan ketika kita bicara,
tapi ketika kita memilih untuk tidak membiarkan suara kita lebih keras dari suara panggilan.
5. Pengabdian Seumur Hidup
Sesuatu tidak pernah berubah dari hari di mana ia dinobatkan hingga akhir hayatnya:
Ratu Elizabeth II hidup untuk melayani.
Tidak semua orang bisa benar-benar memahami,
bahwa di balik ritual, gelar, dan kemegahan istana,
tersimpan sebuah pengabdian yang tidak mengenal kata berhenti.
Ia memerintah bukan demi dirinya,
tapi demi sebuah kerajaan,
demi sebuah panggilan yang ia hidupi dengan setia dari usia muda.
Itu membuatku kembali terdiam:
Masihkah ada hati seperti ini?
Yang bersedia setia di dalam panggilan, bahkan ketika semua hal berubah?
Yang tidak menjadikan akhir sebagai tujuan,
tapi melihat kesetiaan dari hari demi hari sebagai bentuk kemuliaan.
“Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa TUHAN itu benar, Gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.”
Mazmur 92:14-15
Pengabdian bukan tentang prestasi.
Bukan tentang pengakuan.
Tapi tentang ketekunan.
Tentang kesetiaan yang tetap menyala, bahkan ketika tidak dilihat siapa pun.
Ratu Elizabeth tidak sempurna. Tapi jejak hidupnya memberi pesan jelas:
Kita tidak perlu menjadi tokoh besar untuk hidup dalam pengabdian yang berarti.
Kita hanya perlu setia… sampai akhir.
Penutup
Mungkin saat ini kita tidak sedang mengenakan mahkota seperti Ratu Elizabeth.
Tapi bisa jadi, kita sedang menggenggam satu yang sama: panggilan.
Dan seperti beliau, kadang panggilan itu meminta kita menanggalkan banyak hal: keinginan pribadi, ekspresi bebas, atau kenyamanan hidup lama.
Tapi justru di situlah kemuliaannya,
karena kita tahu, kita hidup bukan untuk diri sendiri.
Jika kamu selesai membaca ini, jangan buru-buru melanjutkan harimu.
Diamlah sejenak.
Dengarkan ruang sunyi di dalam dirimu.
Siapa tahu, di sana kamu akan melihat sebuah mahkota..
…yang tak terlihat mata,
tapi terasa di dalam jiwa.
Kita tidak sedang membandingkan diri dengan Ratu Elizabeth II,
bukan posisi, bukan figur, bukan juga latar kisahnya.
Tapi ada satu hal yang mengetuk kuat di hatiku:
respons dan dedikasi seumur hidupnya terhadap sebuah panggilan.
Aku pun bertanya pada diriku:
Sudahkah aku setia pada panggilanku?
Sudahkah aku bersedia tunduk, taat, dan mengabdi,
meski tidak disorot, meski tidak dipuji?
Barangkali tulisan ini bukan sekadar refleksi dari film yang kusuka,
tapi cermin yang Tuhan ulurkan untukku… juga untukmu.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak…
Bukan untuk melihat ke luar,
tapi untuk diam dan masuk ke dalam.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.