Kalau Kamu Mau Duduk Bersamaku

Akhir-akhir ini, dunia semakin gaduh.
Aku tahu, kegaduhan tidak pernah melahirkan ketenangan.
Yang terselip adalah kecemasan dan kekuatiran.

Sepertinya,
semakin bising di luar sana,
semakin perlu kita masuk ke dalam.

Ke tempat di mana suara Tuhan tidak berteriak,
tapi membisik tenang.
Ke tempat di mana keheningan bukan pelarian,
tetapi jalan pulang.

Dunia mungkin akan terus bergejolak,
tapi di dalam sana,
di area yang dijaga dengan doa,
kita belajar tetap utuh di tengah hiruk pikuk yang menyelipkan takut.
Kita belajar tetap menengadah pada Sang Pemberi Hidup.

Mungkin sebagian dari kita punya ruang kecil,
yang menjadi tempat untuk kembali,
bukan ke dalam keramaian,
tapi ke dalam keheningan.

Bagiku, Blog ini adalah ruang itu.

Ruang yang tidak dibangun di bawah spotlight,
atau di atas sorak sorai,
tapi di dalam senyap yang dijaga,
dan doa yang dipelihara.
Ruang yang tidak membangun panggung,
tapi membangun rumah,
tempat di mana aku duduk,
dan mendengar yang berdetak di dalam.

Karena semakin lama aku menulis,
semakin aku belajar:
Tidak semua tulisan ingin diberi tepuk tangan,
beberapa hanya ingin merasakan pulang.

Blog Sampai Menjadi Nadi adalah ruang kecil yang hening,
bukan sekadar tempat menulis,
tapi tempat doa dan percakapan batin.
Percakapan yang tidak selalu berbunyi,
tapi selalu mengalir tanpa mengejar validasi.
Tempat yang kadang membuatku tidak mengerti,
tapi selalu memberi ketenangan hati.

Ia dibangun untuk tetap hidup… seperti nadi.

Nadi memang tidak pernah tampil,
ia selalu berdegup di dalam.
Tidak terlihat, tapi menjadi jantung kehidupan.
Tidak bersuara, tapi menghadirkan inti dari sebuah perjalanan.

Bagiku, mengisi Blog bukan soal kesempatan,
bukan sekadar menyusun aksara dan meletakkan karya.
Tapi tentang merespons sebuah percakapan.
Tentang menuangkan suara yang berbicara dari ruang terdalam,
Tentang belajar bagaimana semakin jernih mendengar.

Sampai Menjadi Nadi bukan sekadar nama.
Ia adalah pengingat.
Bahwa aku tidak menulis untuk sorotan mata,
tidak untuk penampilan dan penilaian.
Tapi untuk dibiarkan tinggal.

Namun demikian,
Sampai Menjadi Nadi juga adalah ruang terbuka,
Untukmu yang ingin duduk bersamaku,
menyeduh teh temu,
berbagi hangat seperti peluk waktu.
Berjalan bersama dalam hening yang tak asing,
saling menemani, saling mengiringi.

Tidak perlu memberi banyak,
hanya perlu mendengar banyak.

Dan mungkin…
di tengah sapa dan kata,
kau pun mendengar suara-Nya
atas dirimu dan perjalananmu.

Santi Konanjaya

··················

Komentar

Feel free to share your story or thoughts in the comments.