(Batas, arah, dan tanggung jawab)
Dulu, hidup terasa lebih pelan.
Langkah-langkah kita tidak dipandu oleh notifikasi.
Dulu, kita hidup tanpa dunia maya,
tapi itu bukan berarti kita tidak nyata.
Dulu, kita tidak perlu eksistensi digital untuk merasa hidup,
dan keheningan masih bisa dirasakan sebagai teman.
Tidak ada dorongan untuk selalu terkoneksi,
tidak ada tekanan untuk selalu meresponi.
Hidup berjalan seturut irama, bukan desakan.
Sekarang, semuanya serba cepat.
Teknologi hadir membawa kenyamanan dan efisiensi.
Segala sesuatu bisa diatur, disesuaikan, diselesaikan dengan lebih mudah.
Tapi di balik kemudahan, seringkali muncul kepenatan.
Seakan mengejar sesuatu yang sebenarnya tak nyata.
Yang terang jadi remang,
yang remang jadi terang.
Yang buram jadi jelas,
yang jelas justru terasa buram.
Kita tidak lagi yakin,
sedang melihat atau sedang dikendalikan oleh apa yang kita lihat.
Aku mulai bertanya diam-diam:
Apakah yang mudah selalu membuat kita semakin bijak?
Apakah yang cepat selalu menuntun kita untuk terus berpijak?
Apakah benar kita sedang memanfaatkan teknologi?
Atau jangan-jangan... kita yang sedang dimanfaatkan
teknologi?
Aku tidak menganaktirikan teknologi.
Tapi aku juga tidak ingin larut dalam kekaguman yang berlebih.
Aku, yang lebih memilih karya tangan daripada mesin,
yang lebih memilih kata daripada klik,
belajar menerima bahwa teknologi memang sudah menjadi bagian dari keberlangsungan hidup di dunia.
Aku sadar, setiap teknologi membawa arah.
Dan arah itu digerakkan oleh tangan yang menggenggamnya.
Teknologi bisa menjadi sebuah bantuan,
tapi juga bisa menjadi ladang subur bagi keakuan.
Teknologi bisa menjadi tempat bertumbuh,
tapi juga bisa membuat kita kehilangan arah,
lupa ke mana seharusnya melangkah.
“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna.
Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”
(1 Korintus 6:12)
Kadang kita terlalu sibuk mengagumi hasil buatan,
hingga lupa bertanya pada Sang Pencipta,
untuk apa semua ini dititipkan?
Tuhan tidak menghadirkan kecerdasan untuk disalahgunakan.
Tuhan tidak menciptakan kemudahan untuk memanjakan keegoan.
Kecepatan informasi memang bisa membantu,
tapi di saat yang sama, sering membuat kita kehilangan kepekaan.
Mendengar dengan terburu-buru.
Menanggapi dengan emosi menderu.
Diperlukan hikmat untuk membedakan,
mana bantuan,
mana perbudakan yang tersamar.
Aku ingin menggunakan teknologi sebagai bantuan,
bukan menjadikannya sebagai tuan.
Untuk belajar tetap sadar, di tengah dunia yang terus melaju kencang.
Karena pada akhirnya,
bukan tentang seberapa cepat aku bisa mengikuti segalanya,
tapi seberapa dalam aku masih bisa mendengar.
Bukan suara yang datang dari luar,
Tapi suara yang perlahan terus mengetuk dari dalam.
Karena dari kedalaman itulah,
aku belajar tetap tinggal,
bukan sekadar lewat.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.