Seringkali, masalah jarang datang sendiri.
Ia mengajak cemas, marah, kecewa dan tidak jarang kesedihan,
atau mungkin juga membawa cerita lama yang belum selesai.
Tapi benarkah sumbernya adalah masalah?
Atau jangan-jangan pandangan kita yang salah arah?
Seringkali, pergumulan bukan soal peristiwa,
tapi cara kita memaknai cerita.
Kita kira perkaranya hebat,
padahal mungkin, kita berdiri terlalu dekat.
Kita kira semuanya berakhir,
padahal mungkin, kita melihat lewat mata luka yang belum benar-benar pulih.
Kadang kita tidak sedang merespons hari ini, tapi luka kemarin.
Dua orang berdiri di bawah langit yang sama.
Yang satu berkata, “Ini akhir segalanya.”
Yang lain berkata, “Ini awal sebuah perubahan.”
Satu kejadian. Dua pengertian.
Mengapa berbeda?
Karena seorang lebih memegang harapan daripada yang lain.
Karena satu menggenggam janji-Nya,
yang lain digenggam oleh cemasnya.
Harapan dari-Nya memang tidak lahir dari situasi,
tapi dari sebuah kesadaran yang tinggal di hati.
Harapan yang tumbuh dari janji, yang tidak punya batas akhir.
Harapan yang diyakini sebagai pijakan atas setiap langkah kaki.
Katanya, karakter seseorang tidak dibentuk saat semuanya baik,
tapi justru saat jalan menyempit dan mengimpit.
Di tengah tekanan, terlihat apa yang sesungguhnya tertanam.
Di titik itu, kita bertanya:
apakah luka membuat kita runtuh?
atau justru membuka jendela baru?
yang perlahan membentuk kita semakin serupa Sang Guru.
Semoga kita tidak tergesa-gesa meyakini luka sebagai akhir cerita.
Mungkin, yang kita lihat sebagai persoalan,
adalah Tuhan yang sedang memakainya sebagai sebuah pengajaran.
Agar kita belajar tidak hanya melihat dengan mata,
tapi dengan iman yang memberi kompas di ruang kelas kehidupan.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.