Gemercik hujan di luar jendela,
meredam suara-suara gaduh di kepala,
hingga aku bisa mendengar,
suara dari batinku yang terdalam,
aku percaya, Dia sedang ingin menyapa.
Aku kembali belajar memahami,
tidak menyangkal kondisi,
tapi berdamai dengan diri.
Aku kembali belajar menerima,
tidak melupakan,
tapi dengan sadar mengikhlaskan.
Melepaskan memang tak selalu mudah,
menanggalkan keinginan,
menolak kesukaan.
“Kenapa keinginan harus dilepaskan?”
Kenapa kesukaan harus ditolak?”
Sedang dunia berlomba-lomba memenuhi hasrat dan keinginan.
Selama ada kemampuan, apa pun terlaksana tanpa pikir panjang.
Di mana nilai kehidupan diletakkan,
memang tidak selalu sama.
Di mana keberhargaan ditempatkan,
mungkin juga punya peringkat yang berbeda-beda.
Lalu,
Di mana aku meletakkan sebuah keberhargaan?
Apa yang paling membuatku merasa punya makna?
Ketika aku merasa “cukup”?
Meski sejujurnya, manusia jauh dari rasa cukup.
Satu pertanyaan dalam, sekaligus perenungan di tengah tenang.
Menghargai hidup yang tersedia,
sebagai sebuah pemberian cuma-cuma.
Karena kita tidak bisa menciptakan hidup,
tak bisa pula memperlama usia.
Sebanyak apa pun keberhargaan yang dunia tetapkan di atas nama kita.
Mungkin,
yang paling berharga
bukan yang bisa kita genggam.
Tapi yang membuat kita berserah,
dan belajar bersyukur lebih dalam.
1 Samuel 16:7
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.