(Surat kepada aku yang dulu, yang pernah percaya bahwa semuanya sudah terlanjur)
Aku tahu…
Ada masa-masa ketika kamu ingin memutar waktu.
Ingin menarik kembali kata, langkah,
keputusan, atau bahkan hidup.
Kamu menyebutnya… terlambat.
Terlalu patah. Terlalu kelam...
Terlalu jauh untuk kembali.
Ada satu masa,
ketika kamu berdiri di depan cermin,
tidak lagi mengenali siapa yang menatap dari sana.
Ada malam-malam,
ketika kamu berbicara pada langit,
yang terdengar hanya sunyi.
Ada hari-hari,
ketika kamu mengira semuanya terlambat.
Bahwa langkahmu sudah terlalu jauh dari kebaikan,
bahwa pilihanmu, menghapus jalan pulang.
Kamu tidak menangis bukan karena kuat,
tapi karena terlalu lelah berharap.
Kamu pernah bertanya, “Mungkinkah aku pulang?”
Dan kamu takut akan jawaban: “Tidak.”
Tapi lihatlah...
aku masih di sini.
Dan aku ingin berbisik perlahan,
Kamu tidak pernah terlalu jauh untuk dijangkau tangan-Nya.
Hari ini,
aku menulis untukmu yang dulu,
yang tampak tegar, tapi remuk perlahan,
yang ingin menyerah, tapi tetap bertahan.
Aku tidak tahu,
sejak kapan kamu percaya bahwa hidupmu gagal.
Yang aku tahu, rasa itu tumbuh perlahan,
tuduhan-tuduhan yang terus kamu pelihara.
Ketakutan yang diam-diam kamu beri makan,
suara dunia yang terlalu sering kamu benarkan.
Ibarat sebuah buku usang yang terus kamu buka,
tapi tidak ingin kamu baca.
Tidak kamu tutup, tidak juga kamu tamatkan.
Hingga suatu hari kamu sadar,
intimidasi tidak pernah berasal dari Tuhan.
Tuduhan bukan bagian dari rencana-Nya.
Aku hanya ingin kamu tahu:
Tidak ada cerita yang terlalu jauh untuk Dia ubahkan.
Tidak ada bagian dari hidupmu yang terlalu gelap,
untuk tangan-Nya menggapai.
Yesaya 43:18–19a
“Janganlah ingat-ingat hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!
Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?"
Betul, kamu tidak akan melupakan,
tapi kamu pun tidak akan menyusun ulang kisah masa lalu.
Kamu sudah berjalan jauh untuk menoleh ke belakang.
Yang kamu perlu bukan peta masa lalu,
tapi Cahaya yang menerangi siapa kamu hari ini,
dan Siapa yang tetap tinggal.
Sekarang kamu mengerti...
perjalanan pulang itu selalu menanti.
Selama kamu mau membuka hati,
Cahaya itu akan menuntunmu kembali.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.