Kebenaran seringkali terasa berat.
Karena ia mengajak kita bergerak,
keluar dari zona nyaman yang bertahun-tahun kita bina.
Zona nyaman memang meneduhkan,
tempat kita bersembunyi dari keraguan dan pergumulan terdalam.
Tempat di mana kita tetap bebas menjadi diri sendiri,
tanpa harus melakukan perubahan.
Zona nyaman menenangkan, tapi tak pernah menumbuhkan.
Kebenaran Tuhan tidak untuk menciptakan zona nyaman, tapi untuk membangun hati yang lama terdiam.
Ia hadir untuk membuka pintu baru, yang kadang penuh ragu.
Ia meminta kita untuk jujur akan keterbatasan.
Ia mengetuk hati, menanti kita untuk memilih transformasi.
Meski perubahan dan pembelajaran jarang sekali bicara mudah.
Banyak yang memilih ‘jalan aman’,
menghindari kebenaran yang mengusik dan menantang.
Bukan karena tidak peduli,
tapi karena terselip kecil hati untuk kehilangan pegangan,
takut berpisah dari kenyamanan yang sudah lama dipeluk,
takut melepas genggaman.
Tuhan memang tidak pernah menjanjikan kemudahan,
atau kemulusan sebuah perjalanan.
Tapi aku percaya, di balik “gangguan”,
Tuhan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh,
lebih utuh, dan lebih hidup.
Kebenaran-Nya bukan untuk menghakimi,
tapi untuk memerdekakan hati dari kenyamanan yang ternyata memenjarakan.
Jangan takut untuk menatap dan menetap pada kebenaran,
meski ia menuntut keberanian dan pergumulan.
Kita akan belajar menanggalkan diri dari hal-hal yang tak lagi menumbuhkan.
Sebab hanya di sana, di ruang yang kadang mengusik,
kita menemukan arah,
bukan sekadar rasa nyaman,
tapi kebenaran yang menuntun pulang.
Santi Konanjaya
Feel free to share your story or thoughts in the comments.