Finding Chika

Buku ini tidak cukup dibaca hanya dengan meminjam dari sebuah perpustakaan, lalu mengembalikannya setelah selesai.
Buku ini perlu dimiliki,
karena cerita di dalamnya tetap tinggal meski sudah kembali ke rak buku.

Itu kenapa meski sudah menyelesaikannya, aku tetap membelinya.
Karena ada buku yang selesai ketika halaman terakhir dibaca.
Ada juga buku yang terus berbicara, bahkan setelah lama tidak dipegang.
Finding Chika menjadi salah satunya bagiku.

Pertama kali aku melihat dan membaca sipnosis buku ini, aku mengira akan membaca sebuah kisah tentang seorang anak di Haiti.
Tentang sebuah panti asuhan, tentang gempa bumi, tentang penyakit, dan tentang kehilangan.

Ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar.
Semakin banyak halaman yang kubaca, semakin lama kuendapkan,
Semakin aku menyadari bahwa cerita buku ini lebih luas dari yang aku kira.

1. Kasih tidak mengenal hubungan darah


Aku ingat, buku-buku karya Mitch Albom sangat akrab dengan kasih.
Finding Chika pun mempunyai wajah yang sama.

Wajah kasih yang sederhana, namun sanggup memperluas cara pandang seseorang tentang keluarga.

Albom menuliskan:
“Families are like pieces of art; they can be made from many materials.”

Selama ini, keluarga sering kali diterjemahkan sebagai orang-orang yang dibentuk oleh hubungan darah.
Kita saling memiliki karena dilahirkan dari rahim yang sama,
dibesarkan di rumah yang sama, dan membawa nama keluarga yang sama.

Atau makna keluarga pun kerap datang dari sekelompok orang yang punya pemahaman yang sama, cara atau arah hidup yang sama, atau juga relasi yang sudah terjalin bertahun-tahun hingga kita melihat mereka sebagai keluarga.

Buku ini memperlihatkan sesuatu yang lain yang jarang terlihat.

Bahwa keluarga juga dapat lahir ketika seseorang memilih membuka ruang di dalam hidupnya bagi orang lain.
Meski semua itu terasa asing baginya.
Meski baru dikenalnya.

Tidak ada ikatan biologis.
Tidak memerlukan waktu panjang.
Tidak ada kewajiban dan tanggung jawab.
Yang ada hanyalah kasih.

Mitch dan Janine tidak pernah merencanakan kehadiran Chika di dalam hidup mereka.

Mereka juga tidak pernah membayangkan bahwa seorang anak kecil dari Haiti akan mengubah perjalanan pernikahan mereka yang telah berjalan dua puluh tujuh tahun.

Kasih memang sering kali datang tanpa banyak penjelasan.
Ia tidak sibuk bertanya,
“Apakah ia darah dagingku?”
Kasih justru bertanya,
“Maukah aku hadir baginya?”

Ia tidak sedang berbicara tentang adopsi.
Ia tidak memberikan sederet “to do list”.
Kasih tidak membutuhkan apa-apa untuk menjadi kasih.

Kasih lahir ketika seseorang memilih hadir.
Dan ketika kehadiran itu dipelihara dengan setia, perlahan ia bertumbuh menjadi rumah.

2. Kehadiran lebih berharga daripada kemampuan menyelamatkan

“The most precious thing you can give someone is your time, because you can never get it back. When you don’t think about getting it back, you’ve given it in love.”

Kalimat itu terasa lebih dalam daripada sekadar berbicara tentang waktu.

Selama ini, kita sering kali berpikir bahwa mengasihi berarti mampu melakukan sesuatu bagi orang lain.
Menolong mereka keluar dari kesulitannya.
Memberikan jalan keluar.
Menyelesaikan persoalan.
Atau setidaknya, membuat keadaan menjadi lebih baik.

Namun hidup tidak selalu memberi ruang untuk itu.

Ada keadaan-keadaan yang tidak dapat kita ubah.
Ada luka yang tidak dapat kita selesaikan.
Ada kehilangan yang tidak sanggup kita cegah.

Mitch tidak dapat menyembuhkan Chika.
Mitch tidak dapat menghentikan penyakit yang terus menggerogoti tubuh kecil Chika.
Namun Mitch masih dapat memilih satu hal: hadir.

Semakin lama aku merenungkan bagian ini, semakin aku merasa bahwa kehadiran adalah salah satu bentuk kasih yang paling murni.

Ia tidak selalu membawa jawaban.
Ia tidak selalu mengubah keadaan.
Tetapi ia berkata tanpa banyak kata,
“Aku tidak meninggalkanmu menjalani semua ini sendirian.”

Mungkin karena itulah waktu menjadi pemberian yang begitu berharga.

Ketika kita memberikan waktu kepada seseorang, sesungguhnya kita sedang memberikan bagian dari hidup kita yang tidak akan pernah bisa kembali.
Dan kasih tidak pernah menghitungnya sebagai kerugian.

Buku ini kembali mengingatkanku,

Bahwa tidak semua kasih diukur dari seberapa banyak yang kita lakukan atau berikan.
Kadang, kasih justru hadir ketika kita tetap memilih tinggal,
meski tidak mampu mengubah apa pun.

3. Anak-anak sering mengembalikan manusia kepada kemanusiaannya

“It was adults who brought me to Haiti, but it was children that brought me back.”

Kutipan Mitch ini seakan mewakili apa yang aku jalani di Rumah Singgah.

Tentang bagaimana seorang anak kecil mampu mengembalikan sesuatu yang mungkin terhilang ketika kita bertambah dewasa.

Anak-anak tidak datang dengan pencapaian atau jawaban-jawaban besar.
Tapi mereka mengingatkan kita untuk menikmati hal-hal sederhana,
untuk hadir sepenuhnya pada hari ini.

Barangkali itulah yang terjadi pada Mitch dan Janine.
Mereka mengira sedang membuka ruang bagi Chika.
Namun justru Chika lah yang membuka ruang baru di dalam hati mereka.

Kasih tidak hanya memberi sesuatu kepada orang lain.
Kasih juga mengembalikan sesuatu di dalam diri orang yang mengasihi.

4. Hidup bukan diukur dari panjangnya

Cerita di buku ini tidak pernah terasa sebagai kisah tentang kematian.
Justru sebaliknya,
buku ini penuh dengan kehidupan.

Chika tidak hidup lama.
Namun kehadirannya meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada usianya.

Selama ini, tanpa kusadari, hidup sering kali diukur dari panjangnya waktu.
Padahal yang benar-benar tinggal mungkin bukan seberapa lama seseorang hidup.
Tapi seberapa dalam ia mengasihi selama ia hidup.


5. Kasih selalu mengubah orang yang mengasihi

Di penghujung halaman, aku merasa bahwa tokoh utamanya bukan hanya Chika.
Bukan pula Mitch dan Janine.
Tokoh utamanya adalah kasih.

Kasih yang bekerja tanpa banyak suara.
Kasih yang memperluas hati.
Kasih yang membuat seseorang memberi ruang bagi orang asing.
Kasih yang memilih tetap hadir ketika tidak lagi mampu menyembuhkan.

Pada akhirnya buku ini tidak sedang mengajakku mengagumi besarnya kasih Mitch dan Janine.
Buku ini justru membuatku melihat cara kerja kasih itu sendiri.

Kasih tidak pernah menunggu seseorang menjadi milik kita.
Kasihlah yang membuat seseorang menjadi bagian dari hidup kita.

Mungkin kasih memang bekerja seperti itu.
Ia tidak hanya mengubah orang yang menerimanya.
Ia lebih dulu mengubah orang yang memilih untuk memberikannya.

Santi Konanjaya

··················