Buku ini tidak memberiku cerita besar.
Tidak ada konflik yang membuat aku ingin segera membalik halaman.
Tidak ada kejutan yang memukau.
Yang kutemui justru orang-orang biasa dengan keseharian yang biasa.
Mereka datang dan pergi,
Berpapasan, bertemu, dan bercakap,
saling meninggalkan jejak,
lalu melanjutkan hidupnya masing-masing.
Hot Chocolate on Thursday memintaku memperhatikan apa yang sederhana dan tampak biasa.
Buku ini berbisik:
Mungkin hidup lebih sering berubah karena secangkir cokelat hangat, satu kalimat yang tepat waktu, atau seseorang yang tulus menemani.
Mungkin hidup memang disusun dari hal-hal kecil yang selama ini terlalu sering kulewatkan.
Aku merasa, yang menarik perhatianku belakangan ini bukan lagi hal-hal yang luar biasa.
Tapi keseharian yang semakin sering membuatku berhenti.
Hari yang berjalan tanpa peristiwa besar.
Dulu semuanya terasa biasa dan berlalu begitu saja.
Hari ini, seperti potongan-potongan kecil yang, ketika ditenun bersama,
memperlihatkan gambar indah yang selama ini luput dari cara pandangku.
Yang juga menarik hatiku adalah bagaimana setiap tokohnya diam-diam menjadi bagian dari kehidupan tokoh yang lain.
Mereka tidak selalu saling mengenal.
Tidak selalu menyadari bahwa sebuah percakapan singkat, perhatian kecil, atau sekadar kehadiran mereka telah meninggalkan jejak di hati orang lain.
Bukankah hidup kita pun sering kali seperti itu?
Ada orang yang masih mengingat satu kalimat yang pernah kita ucapkan,
sementara kita sendiri sudah tidak mengingatnya.
Ada senyum yang kita berikan tanpa banyak berpikir,
tetapi mungkin menjadi alasan seseorang bertahan melewati hari yang berat.
Ada orang-orang yang hadir hanya sebentar dalam hidup kita,
namun jejaknya tetap tinggal jauh lebih lama daripada yang pernah mereka bayangkan.
Kita tidak tahu,
bahwa sapaan kita menjadi penghiburan,
bahwa kehadiran kita menjadi jawaban doa seseorang,
bahwa perhatian kecil kita menjadi awal dari keberanian orang lain untuk melangkah lagi.
Dan mungkin... memang tidak perlu tahu.
Barangkali memang tidak ada hidup yang benar-benar berdiri sendiri.
Kita tidak tahu di halaman mana dari kehidupan seseorang, Tuhan menempatkan nama kita.
Kita saling menyentuh, saling mengasihi,
saling membentuk, dan saling meninggalkan jejak, sering kali tanpa pernah menyadarinya.
Pada akhirnya,
Di tengah dunia yang dipenuhi kebisingan, konflik, dan berita yang melelahkan,
buku ini tidak memilih menjadi dramatis.
Ia memilih menjadi hangat.
Aku mengira kehangatan hanya sebuah suasana.
Tapi semakin kusadari bahwa menjaga hati tetap hangat di dunia seperti sekarang bukanlah sesuatu yang mudah.
Dibutuhkan keberanian untuk tidak menjadi sinis dan pesimis.
Keberanian untuk tetap lembut ketika dunia mengajarkan kita bersikap keras.
Keberanian untuk tetap percaya kepada manusia, meski pernah dikecewakan.
Keberanian untuk terus memilih hadir, meski tidak selalu dihargai.
Mungkin kehangatan bukan sekadar sifat.
Ia adalah pilihan yang terus diperbarui, hari demi hari.
Tuhan memang lebih sering bekerja seperti itu.
Bukan selalu melalui peristiwa-peristiwa yang mengubah arah hidup dalam sekejap,
tetapi melalui benang-benang kecil yang ditenun-Nya setiap hari.
Barangkali itulah yang dibisikkan Hot Chocolate on Thursday kepadaku.
Keindahan hidup tidak selalu hadir lewat hal-hal yang luar biasa.
Ia sering bersembunyi di dalam keseharian yang dianggap biasa,
dan menunggu sampai mata kita belajar melihatnya.
Mungkin karena itu, tidak ada satu hari pun yang sia-sia.
Aku pulang tidak dengan keinginan untuk menjalani hidup yang lebih besar.
Aku pulang dengan kerinduan untuk menjalani hidup yang lebih hadir.
“Without even realizing it, we may touch and change someone else’s life.”
— Hot Chocolate on Thursday
Santi Konanjaya
