Tidak semua tulisan lahir dari tempat yang sama.
Ada yang datang dari fantasi dan imajinasi menakjubkan.
Ada yang muncul dari kerinduan untuk kelak dikenang.
Ada yang lahir dari keseharian, lalu menjadikannya sebuah cerita yang menawan.
Ada yang tumbuh dari percakapan batin, dari air mata yang menitik dalam diam,
dari doa yang tidak diumumkan.
Di antara semua ini,
dari titik mana aku memilih menulis?
Tulisanku hanya sebuah refleksi kecil dari perjalananku menggores aksara.
Belajar untuk tidak tergesa-gesa menuliskan segala sesuatu yang datang.
Tidak semua hal di dalam keseharian bisa menjadi tulisan.
Ada yang bertandang untuk ditulis.
Sebagian datang untuk menjadi doa.
Atau ada bagian lain yang muncul hanya untuk direnungkan, lalu dilepaskan.
Ada juga yang mulanya terlihat kabur,
cukup untuk disimpan tanpa perlu segera menjadi apa-apa.
Aku tidak menulis ketika suara di dalam batin masih terlalu nyaring.
Sebab ketika sesuatu masih begitu kuat bersuara,
mungkin yang keluar bukanlah refleksi,
melainkan gema dari apa yang baru saja terjadi.
Aku membiarkannya tinggal.
Mengendap di dalam di hati dan ingatan.
Sampai aku memahami mengapa ia datang,
di situlah aku mengerti ada yang perlu dituangkan.
Itu mengapa, bagiku, menulis tidak pernah berdiri sendiri.
Yang tidak tertuang bisa menjadi sekadar refleksi,
bisa menjadi doa,
atau mendewasakan caraku melihat hidup.
Tidak semua langkah perlu diwujudkan menjadi kata.
Tidak semua jejak harus diberi nama.
Ada hal-hal yang memang bukan untuk diceritakan.
Cukup tinggal di hati.
Cukup mewarnai hari.
Cukup menjadi sebuah episode dari kehidupan.
Pada akhirnya,
menulis bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dituangkan menjadi kata,
tetapi tentang belajar mengenali apa yang sejatinya perlu direkam dan diberi ruang.
Karena tidak semua yang mengubah hidup harus dibawa keluar.
Sebagian cukup menjadi hidup.
Ketika sesuatu memilih untuk menjadi tulisan,
aku tahu itu tidak sekadar datang untuk dituliskan.
Ia datang untuk menjadi jejak sebuah perjalanan.
Santi Konanjaya
