Bukan Tentang Lima Puluh

Blog Sampai Menjadi Nadi memang tidak lahir untuk menjawab.
Tidak pula untuk menjelaskan.

Ia adalah ruang yang menemani seseorang menemukan pulang.
Mencukupkan dengan apa yang ada.

Sejak awal, Sampai Menjadi Nadi tidak mengejar banyak hal.
Tidak mengejar angka.
Tidak mencari ramai.
Tidak menunggu tepuk tangan.

Sampai Menjadi Nadi hanya ingin menjadi tempat untuk berhenti sejenak,
mengamati hidup,
dan mendengarkan apa yang sering kali tenggelam di tengah riuhnya dunia.

Di setiap tulisan, aku belajar berjalan lebih pelan.
Belajar hidup lebih dalam.
Belajar kembali ke diri.
Belajar merasakan dan mengenali kepekaan pada hal-hal kecil yang Tuhan titipkan setiap hari.

Ada musim ketika langkah terasa ringan,
ada juga musim ketika yang tersisa hanyalah napas panjang,
air mata, dan doa tanpa kata.

Di setiap musim itu, Tuhan tidak pernah meninggalkan.
Ia menemani, memeluk, menyalakan kembali cahaya di dalam dada yang hampir padam.

Hari ini, genap lima puluh tulisan.

Lima puluh karya bukanlah sebuah selebrasi.
Ia adalah jejak penyertaan Tuhan yang mengizinkanku terus berkarya.

Bahwa setiap musim, setiap air mata, setiap sukacita, dan setiap keheningan,
tidak pernah sia-sia ketika diserahkan kepada-Nya.

Sebab setiap kata yang lahir dari hati, tidak pernah benar-benar tersesat.
Ia selalu menemukan jalan untuk kembali,
kembali kepada kepercayaan,
kembali kepada harapan,
dan kepada rumah yang Tuhan sediakan di dalam diri.

Terima kasih, Bapa.
Untuk setiap musim yang Kau izinkan terjadi.
Untuk setiap langkah yang Kau jaga.
Untuk napas yang masih Kau percayakan hari ini.

Selama jantung ini masih berdetak, biarlah hidup pun terus berjalan…
sampai menjadi nadi.

Santi Konanjaya

Eksplorasi konten lain dari Catatan kecil dari yang memilih tinggal di kedalaman

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca