Pernahkah kita memperhatikan betapa sulitnya hidup tanpa suara?
Ketika membuka mata di pagi hari,
Ketika belum benar-benar terbangun,
tangan segera meraih ponsel,
mulai membuka notifikasi, membaca berita, melihat media sosial,
atau sekadar memastikan tidak ada pesan yang terlewat.
Sebelum hari benar-benar dimulai,
kita sudah dikelilingi notifikasi, berita, percakapan,
dan berbagai hal yang menagih perhatian.
Mengapa hampir semua orang memegang ponsel ketika menunggu atau dalam perjalanan?
Mengapa rumah yang sepi sering terasa tidak nyaman?
Mengapa kita selalu ingin ada suara?
Barangkali kita tidak pernah benar-benar belajar hidup dalam keheningan.
Seolah-olah setiap ruang kosong harus segera diisi.
Mungkin yang kita khawatirkan bukan keheningan,
tetapi apa yang akan kita temukan ketika tidak ada lagi yang mengalihkan perhatian.
Di dalam hening,
kita mulai mendengar suara-suara yang selama ini tenggelam oleh kebisingan:
Pertanyaan yang belum terjawab.
Emosi yang belum dikenali.
Luka yang belum selesai.
ketakutan yang belum diakui.
Mungkin itu kenapa banyak orang tidak nyaman dalam kesendirian.
Karena kesendirian kerap diidentifikasi sebagai kesepian.
Benarkah setiap kesendirian adalah kesepian?
Ada orang yang di tengah keramaian,
dikelilingi banyak orang,
tetapi merasa sendiri dan kesepian.
Ada orang yang duduk sendiri di sudut perpustakaan,
berjalan tanpa teman di tepi sungai,
menikmati secangkir kopi, namun hatinya terasa utuh.
Meski keduanya tampak sendiri secara fisik,
tapi kesendirian dan kesepian berbicara dua hal yang berbeda.
Loneliness berbicara tentang ketiadaan.
Ada sesuatu yang terasa hilang.
Ada kerinduan untuk terus mencari jawaban.
Ada kekosongan yang sulit dijelaskan.
Ada ruang di dalam diri yang terus mencari sesuatu untuk merasa penuh.
Sering kali,
loneliness lahir karena ada bagian dari diri yang belum pernah sungguh-sungguh kita temui.
Kita mulai mencari,
melalui relasi,
melalui pekerjaan,
melalui kesibukan, pencapaian,
hiburan, bahkan pengakuan.
Tidak ada relasi yang mampu menghapus seluruh kesepian.
Tidak ada pencapaian yang dapat membuat jiwa berhenti mencari.
Karena yang kita alami bukan sekadar kekurangan sesuatu.
Tapi ruang di dalam diri yang belum benar-benar didiami.
Solitude berbicara tentang kehadiran.
Kamu memang sendirian, tetapi tidak merasa ditinggalkan.
Ada kepenuhan di dalam ruang batin.
Ada ketenangan yang tidak bergantung pada banyaknya orang di sekeliling.
Sendiri, tidak membuatnya merasa sepi.
Solitude bukan keadaan ketika semua persoalan hidup telah selesai,
bukan kemampuan untuk hidup tanpa siapa-siapa.
Solitude adalah kemampuan untuk tetap hadir bersama diri sendiri,
tanpa terus ingin melarikan diri.
Hadir di tengah keheningan tanpa merasa harus segera mengisi.
Dan, hadir di hadapan Tuhan tanpa banyak mengatakan “aku ingin”.
Di dalam solitude, kita tidak sedang mencari sesuatu yang hilang.
Kita sedang belajar menghuni ruang batin kita sendiri.
Perlahan, bagian-bagian diri yang selama ini tercerai-berai oleh kesibukan, tuntutan, dan validasi,
mulai disatukan kembali.
Solitude tidak membuat seseorang semakin jauh dari dirinya,
justru sebaliknya,
solitude membuat seseorang semakin utuh dan mengenali kata cukup.
Perjalanan menuju solitude tidak terjadi dalam semalam.
Bukan sesuatu yang tiba-tiba kita miliki,
tapi sesuatu yang perlahan kita hidupi.
Cara kita memandang hidup dan nilai yang kita tanam di dalamnya.
Sebuah latihan untuk terus kembali ketika dunia menarik perhatian kita ke banyak arah.
Belajar berdamai dengan diri sendiri.
Belajar duduk bersama diri tanpa terus menghakimi.
Belajar menemani setiap emosi tanpa harus segera mengusirnya pergi.
Mungkin itulah buah pertama dari solitude.
Perlahan kita berhenti memusuhi diri.
Kita tidak lagi terus membandingkan hidup dengan orang lain.
mengejar versi diri yang kita anggap lebih layak,
atau merasa harus selalu menjadi lebih agar pantas diterima.
Solitude mengajak kita melihat diri sebagaimana adanya.
Buah berikutnya mungkin tidak langsung terlihat.
Tapi perlahan kita menyadari,
bahwa kita tidak lagi terlalu bergantung pada validasi.
Pujian tidak membuat kita melambung terlalu tinggi.
Penolakan tidak menjatuhkan kita sedalam tempo hari.
Kita tidak lagi hidup dari apa yang dikatakan orang lain.
Hidup tidak menjadi lebih mudah.
Pertanyaan pun tidak selalu menemukan jawaban.
Tapi ketika semakin menyadari,
ada tenang bertumbuh di dalam.
Sebuah pusat yang tidak lagi mudah diguncang,
tempat yang perlahan menjadi teduh.
Itulah hadiah terbesar dari solitude.
Mungkin selama ini kita mengira yang kita cari adalah lebih banyak teman, lebih banyak kesibukan, lebih banyak pencapaian.
Padahal yang paling lama kita abaikan adalah diri kita sendiri.
Tidak semua ruang kosong perlu segera diisi.
Ada ruang yang memang diciptakan untuk dihuni.
Dan barangkali,
ruang itu,
bukan berada di luar diri,
melainkan di dalam.
Santi Konanjaya